Kearifan lokal Ikan Larangan Batang Ampu Simpang Tigo Pasbar Dimulai Sejak 21 Februari 2021

  • Whatsapp

PASAMAN BARAT | SHOOTLINENEWS.COM — Kearifan lokal berupa ikan larangan mampu menjaga sungai agar tetap bersih dan terhindar dari penangkapan ikan secara berlebihan di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Ikan larangan Batang Ampu, Simpang tigo Kecamatan Luhak Nan Duo, Masyarakat di sekitar telah sepakat untuk mengikuti aturan tersebut. Kemudian tidak menangkap ikan di tempat yang telah dianggap sebagai ikan larangan, Ada sanksi bila dilanggar.

Bahkan masyarakat percaya apabila dilanggar akan mendapatkan konsekuensi tertentu yang sudah ada sejak dulunya.

Masyarakat di Simpang Tigo Nagari Koto Baru Kabupaten Pasaman Barat memiliki banyak cara untuk membangun Kampung, salah satunya dengan memelihara ikan larangan disekitar tempat tinggal yang secara ekonomi memiliki nilai jual cukup tinggi dan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan Kampung. seperti pembangunan Masjid Nurul ikhlas Simpang Tigo .

Dengan munculnya kesepakatan masyarakat Simpang Tigo untuk menjadikan ikan sungai sebagai ikan larangan, bertujuan untuk menjaga ikan tetap eksis keberadaannya serta pemanfaatan dana hasil pemeliharaan ikan untuk pembangunan Kampung.

Musyawarah yang dilaksanakan Minggu, 21 Februari 2021 bertempat di MDA/TPA Masjid Nurul Ikhlas, berbagai pendapat muncul, salah satunya dari Darius Zahtiar.

“Sebelum melarangkan ikan diharapkan ada aturan baku yang bisa mengikat bagi pelanggar, pelaku pencurian ikan larangan, dan di sini sama-sama kita rumuskan” Darius mengawali

“Bagaimana aturan ini kemudian disampaikan ke pihak Pemerintah Nagari Koto Baru khususnya Badan Musyawarah Nagari) supaya dibuat Peraturan Nagari Tentang Ikan Larangan dan lakukan musyawarah lanjutan untuk pembahasan ikan larangan ini dengan mengundang Pihak Pemerintahan Nagari” sebut Darius.

Sementara kepala Jorong Simpang Tigo, Junaidi Setuju dengan Sanksi Sosial atau Sanksi Adat, dan sanksi ini harus ada dalam Peraturan Nagari tentang kearifan lokal Ikan larangan tersebut.

Senada tokoh pemuda Adrianto mengatakan “Bahwasanya hasil ikan larangan adalah untuk Mesjid dan tidak boleh diambil, mengambil ikan larangan sama halnya dengan mengambil Hak Anak Yatim yang akan berurusan dengan Tuhan,”.

“Masalah Sanksi Sosial Sanksi Adat minta persetujuan kepada Bhabinkhantipmas dan Babinsa” tegas buyuang Birin dihadapan

“Sangat setuju dengan usulan mak Dariyus tadi, PerNa (Peraturan Nagari) tentang Ikan larangan ini supaya bisa jadi efek jera bagi pelaku dan secepatnya dikoordinasikan kepada Pemerintahan Nagari” jelasnya

Pada akhir musyawarah disimpulkan dalam Berita Acara yang mana Ikan larangan Masjid Nurul Ikhlas mulai Tanggal 21 Februari 2021 resmi sudah dilarangkan. Perihal Membuat Peraturan Nagari dan sanksi sosial untuk para pelanggar akan berkoordinasi dengan Pemerintah Nagari, terlebih dahulu harus berkoordinasi dengan Masjid/Mushalla sekitar terkait pelarangan ikan sungao Batang Ampu” jelas ketua Mak Darius.

Tak hanya pemuda tokoh masyarakat, jorong dan niniak mamak pun ikut serta mensukseskan larangan batang Ampu.

Tokoh pemuda yg mengatasnamakan dirinya Pemuda Mujaddid telah menyerahkan bantuan bibit ikan nila dan tonsen kepada pengurus mesjid Nurul Ikhlas atau Surau Gadang dengan tujuan agar hasilnya nanti bisa dipergunakan untuk keperluan mesjid ataupun anak yatim.

Ia berharap nantinya seluruh elemen dan lapisan masyarakat turut menjaga dan melestarikan ikan larangan 3 surau yakni Surau gadang Nurul ikhlas)l, surau Muhammadyah Babusalamn) dan surau Dt.Bandaro Kali Simpang Tigo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *