Aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin ( PETI ) Di Wailayah Hukum Dharmasraya Makin Menjamur

  • Bagikan

DHARMASRAYA | SHOOTLINENEWS.COM – Aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin ( PETI) di wilayah Kabupaten Dharmasraya kian marak, seperti di aliaran Batang Hari dan anak sungai sepanjang Batang momong, tepatnya di kawasan Kecamatan IX Koto, dengan bebas para penambang ini menggunakan mesin dompeng dan mesin kapal mengeruk aliran sepanjang sungai dan lahan hutan untuk mencari butiran- butiran emas.

Informasi dan pantaun awak media dilapangan, kegiatan pembambang ini bisa dibilang tanpa takut. Dimana aksi ilegal tersebut dilakukan secara terang- terang ditempat umum seperti, dibelakang rumah penduduk, dipinggir jalan poros kecamatan setempat. Meski ada juga yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman warga.

” Lokasi tambang emas yang ada di wilayah ini yakni di Sungai Sirao, Batang Momong, Sungai Pinang, kawasan PT. BRM, Sungai dan Batang Potaw,” cerita salah seorang warga Kecamatan IX Koto, yang mengaku bernama, Parman (40) didampingi beberapa orang rekannya kepada awak media ini, Kamis ( 3/6/2021)

Menurutnya, pelaku tambang di wilayah Kecamatan IX Koto tidak hanya penduduk pribumi, tapi ada juga warga dari luar, bahkan ada juga diduga penjabat nagari dan penjabat daerah yang ikut sebagai Bos penambang emas ilegal meining, Bagi warga luar yang tidak memiliki lokasi tambang ( ulayat-red) harus menyewa lahan dengan sistem bagi hasil, 80 persen untuk penyewa dan 20 persen untuk pemilik lahan.

“Seperti yang bapak lihat tadi, lokasi tambang disini ada yang berada dibelakang rumah penduduk dan sungai,” terang mantan pelaku tambang ini.

Tambah Suparman, tambang emas ini ada bebara jenis yakni, melanting, dompeng, dan gelondongan. Menambang emas dengan melanting dilakukan di sungai dengan cara menyilam, dompeng dilakukan dengan cara menggali lahan dengan kedalaman mencapai 12 sampai 15 meter menancap lurus kebawah serta lebarnya sampai puluhan meter, dan gelondongan dilakukan pula dengan cara menggali ke bawah dan kesamping kedalaman mencapai ratusan meter serta lebarnya 1 sampai 2 meter.

“Resikonya besar, tapi kalau lagi ada hasil juga besar, kalau lagi ada hasil bisa beli mobil dan bikin rumah, kalau sialnya bisa bangkrut seperti saya ini,” terangnya.

Lanjutnya, dampak dari penambangan ilegal ini ribuan hektare lahan hutan rusak dan aliran sungai keruh, serta rawan terjadinya bencana alam, tak hanya itu aktivitas tambang ilegal ini juga merusak kelestarian lingkungan.

“Hasilnya sangat menggiurkan, bahkan para pemodal yang berani mengucurkan dana besar omsetnya mencapai miliaran rupiah,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Kecamatan IX Koto, Syaiful Anwar saat dihubungi sama awak media lewat telpon seluler dan whatshapnya, hingga berita ini, tidak ada jawabannya sama sekali.(*)

Penulis: BAMBANG SUPRAPTO | KABIRO DHARMASRAYA Editor: RF3P
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *