Di Denda 11 Juta Pelanggan Listrik Datangi Kantor PLN UPL Lintau Untuk Menuntut Keadilan

  • Bagikan

TANAH DATAR – SHOOTLINENEWS.COM – Lintau Buo, Ardinal ( 41 Tahun ) Sekeluarga merasa tak ada yang aneh dengan pengunaan listrik dirumah mereka kawasan Jorong Tigo Tumpuk Nagari Taluk. Sampai akhirnya tagihan denda jutaan rupiah yang datang dari PLN bikin keluarga itu meradang.” Keluarga saya dituduh merusak alat meter listrik sebagai untuk mencurangi atau mencuri listrik, Kata Ardinal ketika di wawancarai langsung oleh Tim Shootlinenews.com dikediamannya. ( 04/04/2021 ).

Ardinal menceritakan pada pada tanggal 24 April 2021 tepatnya pukul 14.18 Wib ada seorang mengaku petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik ( P2TL ) dari cabang UP3 Payakumbuh untuk menggantikan Meteran ( KWH ) atas nama Endang Sasmita dengan KWH yang standard dengan alasan  KWH yang lama sudah tidak layak dipakai lagi.Pada saat itu ketika petugas mengganti KWH di Saksikan oleh Endang Sasmita dan anaknya .Dan tanpa rasa curiga dan hal yang biasa Endang Menanda tangani Berita Acara pernggantian KWH yang diberikan petugas itu.Posisi pemasangan KWH yang lama dengan KWH yang baru   tidak sama telah digeser ketempat lain oleh petugas PLN.

Ardinal Menujukan KWH yang di Lepas Petugas PLN

Ardinal juga menjelaskan berselang beberapa hari rumahnya kembali didatangi empat orang petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik ( P2TL ) dari cabang UP3 Payakumbuh pada hari Senin 03 Mei 2021 jam 11.00 wib,dengan alasan memeriksa kondisi meteran listrik,Menurut Ardinal, Istrinya Endang Sasmita ( 39 Tahun ) yang sedang berada  dirumah bersama anaknya tidak terlalu mengawasi kerja para petugas PLN.Tak lama kemudian salah seorang petugas PLN tadi menunjuk lubang atau bekas cantolan di bagian atas meteran.Lubang itu menurut keterangan petugas adalah tanda terjadinya pencurian listrik.

Setelah itu petugas PLN meminta kepada istri saya ES membubuhkan tanda tangan di atas surat berita acara membenarkan ada usaha pencurian listrik.Surat itu juga menjadi surat pertama bagi istri saya Endang Sasmita ke Kantor PLN UPP Lintau . “Entah mungkin karena  awam atau tertekan, akhirnya istri saya menandatangani berita acara tersebut ” Petugas PLN tersebut memutuskan aliran listrik dirumah saya dan membawa meteran sebagai barang bukti , kata Ardinal.

Dan hari itu juga saya yang sedang berada diluar ditelpon oleh istri saya atas kejadian tersebut dengan bergegas saya pulang dan istri saya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Karena merasa tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan, Saya langsung mendatangi kantor PLN pada hari itu juga untuk meminta penjelasan kepada PLN terkait kejadian tersebut.Dan dari keterangan PLN menurut studi kasus yang didapat dilapangan bahwa adanya pelanggaran yang dilakukan pemilik meteran atas nama Endang Sasmita ID Pelanggan 13270045674 dan harus membayar denda sebesar Rp. 11.468.088,- ( Sebelas  Juta Empat Ratus Enam Puluh Delapan Ribu  Delapan Puluh Delapan Rupiah ). Merasa tidak mampu membayar denda sebesar itu saya pulang kerumah dan mencari pembelan atas kasus ini dan akan mendatangi kantor PLN untuk menemui Maneger PLN pada hari esok, Selasa 04/04/2021. Tutur Ardinal.

Pada hari Selasa 04/04/2021 pukul 09.20 Wib Ardinal di damping oleh Tim Shootlinenews.com datang menemui Meneger UPL Lintau Bapak Asri Yanto,untuk meminta penjelasan lebih lanjut atas tindakan pemutusan dan pencabutan KWH dirumah Ardinal,Di Ruang kantor Maneger  UPL Lintau Bapak Asri Yanto di damping oleh Supervisor Bagian Daya dan  Energi Bapak Andra.Dalam pertemuan Ardinal meminta keadilan dan penjelasan tentang peristiwa pemutusan aliran listrik dirumahnya.

Pertemuan Ardinal Bersama Meneger dan Supervisor PLN UPL Lintau
Rumah Ardinal Yang Terkena Pemutusan Sambungan Listrik

Menurut penjelasan Ardinal, ia bersama istri dan keluarganya sudah menempati rumah itu sejak tahun 2016, sebelum ditempati rumah itu tidak dihuni alias kosong selama lebih kurang dua tahun, dan pertama kali menempati rumah itu daya listriknya sebesar 900 watt  mendapatkan subsidi pemerintah biasanya membayar Rp. 80.000,- ( Delapan Puluh Ribu Rupiah )/ Bulan tapi hal itu hanya dijalaninya selama dua tahun,pada tahun 2018 karena ada pengurangan subsidi oleh pemerintahan KWH rumah yang saya huni terdampak dan subsidiyang biasa hilang pembayaran KWH kembali normal dengan daya 900 watt  pembayarannya sebesar Rp.150.000,- ( Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah ) / Perbulanya.Karena pemakaian daya dirumah saya melebihi kapasitas membuat KWH saya sering turun, pada tahun 2020 saya menambah daya listrik menjadi 1300 Watt dengan beban sebesar Rp.300.000,- ( Tiga Ratus Ribu Rupiah ) / Perbulan dan pembayaran tidak pernah menunggak sampai KWH saya diputus oleh petugas PLN.Ardinal merasa heran dengan tuduhan PLN kareana pemakaian listrik dirumahnya sewajarnya tanpa ada indikasi pencurian listrik.

Maneger UPL Lintau Bapak Asri Yanto menjelaskan dari temuan dan laporan petugas tekhnisi dilapangan ada ditemukanya pelanggaran oleh konsumen yaitu adanya lobang atau bekas cantolan sebelum APP pada SR dan itu bukti bahwa terjadi pelanggaran yang dilakukan konsumen.Dan saya sebagai Pimpinan atau Meneger hanya menjalankan sanksi Administrasi karena itu tugas saya. Kalau soal teknis di lapangan apa yang terjadi saya tidak mengetahuinya , Jelas Asri Yanto.

Asri Yanto memberikan alternatif kepada Ardinal berupa cicilan untuk melunasi denda selama 12 bulan dengan DP sesuai kesepakatan,atau dengan cara mengganti KWH Pasca Bayar menjadi Prabayar dengan membayarnya dicicil  juga selama 12 bulan dengan DP dan besarnya cicilan yang di sepakati bersama .Jelas Asri Yanto .

Pada kesempatan itu juga Andra sebagai Supervisor Bidang Daya dan Energi PLN UPL Lintau menjelaskan tentang temuan petugas tekhnis dilapangan pada saat mengganti KWH yang lama dan membuat laporan tersebut sesuai keadaan yang ditemukan serta melaporkan kepusat untuk ditindak lanjuti.Setelah laporan diterima oleh pusat Tim Teknis ditugaskan untuk mengecek ulang temauan serta menindaklanjuti temuan tersebut berdasarkan laporan yang ada.Dan Andra menjelaskan Tim Tekhnis yang turun kelapangan itu adalah pihak ketiga dari PLN. Dan sebagai petugas PLN UPL Lintau untuk mengecek benar atau tidaknya pemasangan KWH yang baru oleh Petugas Tekhnik yang memasang dan memastikan temuannya dilapangan .Andra menyebutkan setelah Tim Tekhnis memastikan KWH nya baik dan normal setelah dilihat keatas oleh petugas disitu ada bekas cantolan, setelah di analisa oleh petugas ada indikasi pelanggaran dan dibuatlah berita acara temuan oleh petugas PLN ditanda tangani saat itu juga oleh pelanggan .Andar juga menyebutkan petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik ( P2TL ) dari cabang UP3 Payakumbuh adalah mengamankan isntalasi tenaga listrik supaya pelanggan aman dan k arena ada ditemukan pelanggaran adanya cantolan tersebut, karena petugas P2TL tidak mencari siapa pelakunya, siapa oknumnya, hal itu terjadi karena alam atau kesengajaan bisa dipertanggung jawabkan.Sebut Andra.

Karena adanya indikasi pelanggaran makanya untuk sementara waktu sambungan listrik diputuskan dan KWH dibawa sebagai barang bukti temuan dilapangan,dan Andra juga menyebutkan sebelum ini sudah banyak juga kejadian yang seperti ini dan melaporkan ke PLN dan masalah diselesaikan dengan kesepakatan bersama,dan hal ini semua sesuai dengan perjanjian kerjasama antara PLN dan pelanggan pada saat pemasangan baru dan  ditanda tangani bersama di dalam perjanjian itu telah ada pasal – pasal tentang pelanggaran dan tindak lanjutnya.Besaran denda itu ada perbedaan karena sesuai daya pelanggan .Karena PLN sudah diberikan Pakta Integritas untuk tidak ada manipulasi data diantaranya keringanan denda pelanggaran agar tidak melanggar diatur ditetapkan oleh PLN. PLN hanya memberikan keringanan kepada pelanggan atas denda terhadap pelanggaran yang dilakukan dengan cara mencicil tagihan itu selama 12 bulan.Andar juga menyarankan karena KWH yang lama pasca bayar jadi rawan pembayaran lunas tiap bulannya jadi Andra mengusulkan untuk KWH dipakai Pra Bayar akan ada jedah  dan apabila habis saldonya pelanggan bisa mengisi ulang tokenya tidak seperti Pasca Bayar jika tidak bayar akan dicabut lagi sama petugas PLN.Dan sebagai Supervisor Andra hanya menyarankan kepada pelanggan  untuk memakai KWH Pra Bayar pembayaran bisah di angsur dan membayar DP serta cicilan selama 12 bulan sesuai kemampuan pelanggan . Jelas Andra .

“Yang saya heran, kok bisa semenjak tahun 2016 – 2021 baru ketahuan adanya cantolan atau lubang diatas meteran,selama ini kami tidak pernah ngapa – ngapain meteran itu , kecuali  ada petugas PLN yang beberapa kali melakukan perubahan karena adanya pemasangan sambungan baru dari tetangga dekat rumah.Kata Ardinal.

Karena sadar posisinya sudah tersudut dan lemah dari sisi hukum dan Istrinya sudah terlanjur menandatangani surat berita acara Ardinal sekeluarga memilih membayar denda sebesar yang telah di berikan PLN atas pelanggaranya sebesar  Rp. 11.468.088,- ( Sebelas  Juta Empat Ratus Enam Puluh Delapan Ribu  Delapan Puluh Delapan Rupiah ) dengan cara mengikuti saran yang diberikan Maneger dan Supervisor PLN UPL Lintau untuk memakai KWH Prabayar dengan DP sebesar Rp. 9.000.000’- ( Sembilan Juta Rupiah ) dengan cicilan sebesar rata – rata  Rp. 157.174,- ( Seratus Lima Puluh Tujuh Ribu Seratus Tujuh Puluh Empat Rupiah ) / bulan selama 12 bulan.Setelah pembayaran dan administrasi selesai petugas teknis kembali memasang KWH Pra Bayar seperti yang telah disepakati dan layanan listrik sudah dapat dimanfaatkan kembali . Ungkap Ardinal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *