Gerakan #JOKOWICLOSE,  Kembali Ricuh dengan Pihak Kepolisian

  • Bagikan

SHOOTLINENEWS.COM | Jakarta – Polisi Republik Indonesia (Polri) geruduk aktivis Jokowi Close di Sekretariat Gerakan Pemuda Islam (GPI). Aksi geruduk ini dipimpin langsung oleh Kepala Polisi Sektor Menteng, Komisaris Polisi (Kompol) Yunarto

Sebanyak 20-an anggota Polisi di bawah perintah Yunarto, segera menggeruduk dan melepas spanduk bertuliskan Jakowi Close. Padahal sekelompok aktivis hanya melakukan orasi di dalam sekretariat GPI di menteng 58 dan mengatur jarak agar tidak berkerumun.

“Kita baru orasi dalam persiapan longmarch menuju patung kuda, lalu Polisi memarahi kita dan mengambil atribut spanduk aksi seharusnya polisi justru mengawal bukan menghalangi.” ujar Rahmat Himran yang juga ketua GPI Jakarta raya, Kamis (9/9)

Menurut Rahmat, tindakan yang dilakukan Polisi sangat disayangkan. Rahmat beralasan, dia dan kelompoknya tidak ada menuutup jalan atau menciptakan kerumunan.

“Polisi telah memperlihatkan wajah aslinya yang selama ditutupi topeng. Mereka (Polisi) mau beralasan apa lagi,” tutur Rahmat Himran.

Masih menurut Rahmat Himran, selama ini Polisi selalu beralasan keruman dan sejenisnya, tapi sebenarnya yang dilakukan Polisi bentuk pelanggaran berat hak konstitusional.

“Menyatakan pendapatpun sekarang sudah tidak bisa,” ujarnya lagi.

Perlu diketahui, saat Polisi menggeruduk, kelompok aktivis sedang berada di dalam pagar. Kendati demikian Yunarto tetap memerintahkan pasukannya untuk masuk secara paksa dan merebut atribut aksi #Jokowiclose.

Selama ini, banyak cara dilakukan Polisi untuk menghentikan kegiatan yang berjenis penyampaian pendapat. Terkhususnya yang berkaitan dengan kritikan kepada pemerintah.

Rahmat berpandangan, Polisi tidak seharusnya menjadi berlebihan membela pemerintah yang berkuasa.

“Siapapun pemerintah yang berkuasa, kedudukan Polisi dalam bernegara tidak seperti ini. Sebagai anak bangsa, saya minta Polisi tetap profesional dan proporsional sesuai tupoksi,” ujarnya dengan kesal.

Sementara itu, Rahmat Imran, Ketua GPI DKI Jakarta menambahkan, tindakan Sunarto diyakini datang dari pejabat tinggi.

“Saya menduga ada orang besar dibalik peristiwa hari ini. Peristiwa ini sudah mencederai gerakan sosial di Indonesia,” ungkapnya.

Rahmat menyampaikan tidak semestinya terjadi aksi penggerudukkan di kantor sekretariat GPI. Dia beralasan, ini adalah bukti ketakutan pemerintah terhadapa suara kebenaran.

Riswan Siahaan yang menjadi Koordinator nasional Gerakan #Jokowiclose juga menghimbau kepada seluruh OKP dan Ormas serta lembaga kemahasiswaan yang memiliki visi yang sama untuk mengadakan mimbar bebas di masing sekretariat dan kampus menjelang tanggal 20 Oktober sebagai peringatan 2 Tahun kegagalan pemerintahan Jokowi-Amin.

“ Apa yang terjadi hari ini tidak akan menyurutkan langkah dan mengecilkan nyali kami, maka dari itu saya menghimbau kepada seluruh kelompok baik OKP,Ormas maupun mahasiswa untuk sama-sama mengadakan mimbar bebas di titik kumpul masing-masing menyuarakan kondisi ril bangsa ini yang makin mengerikan menjelang 20 Oktober peringatan 2 tahun kegagalan pemerintahan Jokowi-Amin.” Ujar Riswan Siahaan

Gerakan Nasional Jokowi Close ini sendiri telah mendapat banyak perhatian dari kelompok Demokrasi. Iwan Sumule pentolan aktivis Pro Demokrasi juga menaruh perhatian kepada aktivitas yang dilakukan oleh Riswan dan kelompoknya.

Beberapa waktu lalu, Iwan menyatakan akan terus konsolidasi dengan seluruh elemen persatuan perjuangan dari para tokoh, pemuda, mahasiswa, buruh, dan agamawan harus dilakukan demi menyelamatkan publik.

Bahkan jaringan Pro Demokrasi telah melakukan konsolidasi juga dengan Gerakan Pemuda Islam dan Gerakan Nasional Jokowi Close pada Selasa, 31 Agustus 2021 lalu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *