GMKI BA’A Minta Pemerintah Perhatikan Infrastruktur Jalan Raya

  • Bagikan

SHOOTLINENEWS.COM | BA’A – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ba’a mengkritik persoalan inspratruktur jalan raya yang tidak diperhatikan oleh pemerintah di Desa Nusak Dale, Kecamatan Pantebaru, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (21/09/2021).

Kepada media ini, Ketua Cabang (Kecab) GMKI Ba’a, Anderias Panie menyampikan bahwasannya pemerintah sangat lamban menangani infrastruktur jalan raya di desa sehingga perkembangan ekonomi di desa lambat.

Dirinya menilai bahwa sudah 76 tahun negara Indonesia merdeka, tetapi hari ini masih saja ada inspratruatur yang tidak diperhatikan khusus oleh pemerintah.

“Pada hal Indonesia merdeka sudah 76 tahun, kenapa hari ini masih saja ada jalan yang rusak? Pada hal alternatif jalan raya yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain sangat penting untuk diperbaiki, sehingga aktifitas di desa berjalan lancara dan aman, karena jika akses jalannya bagus tentu perkembangan ekonomi juga cepat,”tutur Panie.

Lebih lanjut Panie mencontohkan salah satu akses jalan yang ada di Desa Nusak Dale, Kecamatan Pantebaru.

“Contohnya adalah salah satu jalan yang ada di Desa Nusak Dale sangat memprihatinkan karena akses jalan tersebut rusak parah, sehingga mengganggu perjalanan para pengguna jalan. Lantaran jalan tersebut belum di aspal dan masih jalan penggarasan serta jika dilintasi kita banyak temukan krikil atau batu talepas yang kemudian membuat kita harus berhati-hati jika kita menggunakan kendaraan rota dua agar tidak jatuh,”katanya.

Dikatakan Kecab Ba’a tersebut bahwa masyarakat yang berada di Desa Nusak Dale banyak mengeluh kepada GMKI.

“Masyarakat disana banyak keluhkan ke kami terkait akses jalan tersebut. Karena kata masyarakat disana sesuai hasil pantauan kami bahwa di desa tersebut banyak penghasilan yang dapat dijual di pasar namun karena akses jalannya rusak kadang hasil yang mau dijual di pasar tidak dijual. Karena kata masyarakat bahwa kalau kita bawah ke pasar harga ongkos oto juga mahal. Contohnya kambingnya yang harganya Rp 400.000 kita jual Rp 900.000 karena mereka harus bayar biaya transportasi ,”kata Kecab.

Sehingga Anderias Panie minta agar pemerintah melihat akses jalan di desa.

“Saya minta pemerintah perhatikan akses jalan tersebut. Baik itu pemerintah desa. Kalau itu jalan desa atau jalan kabupaten, harusnya pemerintah desa dan pemerintah desa saling koordinasi untuk melihat akses jalan tersebut. Supaya apa yang menjadi harapan masyarakat dapat terjawab,”harap.

Menurutnya bahwa akses jalan tersebut harus dikerjalan atau diperbaiki sehingga masyarakat di desa merasakan apa yang menjadi harapan mereka.

(Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *