Kabupaten Je’neponto di Gegerkan Terkait dugaan Ijaza Paket B yang di perjual belikan

  • Bagikan

Je’neponto – shootlinenews.com – Dinas Pendidikan bersama oknum pengurus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Harapan Bunda Kecamatana Tamalate kabupaten Jeneponto disinyalir memperjualbelikan ijazah Kejar Paket B atau setara dengan ijazah SMP.

 

Ijazah yang dijual kepada masyarakat yang butuh ijazah tersebut, secara otomatis mereka tidak diwajibkan mengikuti proses belajar mengajar, serta tidak mengikuti Ujian Nasional (UN). Tapi, hanya membayar saja Suda bisa mendapatkan ijazah Kejar Paket B.

 

Pasalnya Pencalonan Kepala Desa Barana Kecamatan Bangkala Barat , tidak sesuai atau tidak mengacu ke format Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), seharusnya yang mengeluarkan ijazah paket B dinas terkait.

 

“Ironisnya lagi, ada salah satu pemegang ijazah Kejar Paket B, tentunya dengan cara membeli ijazah Haeruddin daeng Riu bisa Mencalonkan diri Sebagai Calon Kepala desa Barana. Padahal, Cakades tersebut hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), dan diyakini tidak pernah mendaftar atau sekolah untuk program Kejar Paket B.

 

Setelah ada salah satu warga Kecamatan Bangkala Barat Desa Barana yang mengadu kepada Fatimah Selaku Awak Media MPK News , bahwa H.daeng Riu diduga yang telah membeli ijazah Kejar Paket B kepada oknum Kepala Sekola Kabupaten jeneponto,

 

Haeruddin daeng Riu membeli ijazah Kejar Paket B dengan alasan untuk mendaftar sebagai calon Kepala desa (cakades) dan bersangkutan sempat mengakui Tidak perna mengikuti Proses belajar dan Hanya lansung Menerima ijasa begitu saja.

 

Fatimah Selaku Awak Media MPK News saat di Kompirmasi megatakan “untuk proses pembelajaran dalam proses pendidikan kesetaraan dengan metode cepat, yaitu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya, warga harus menempuh pendidikan di PKBM atau pernah putus sekolah. Sehingga bagi siswa yang putus sekolah dan mengikuti program Kejar Paket C dan B, maka siswa hanya menempuh pendidikan selama sisa waktu saat mereka memutuskan untuk tidak sekolah. Dan bila saat itu putus sekolah pada kelas 2, maka hanya menempuh pendidikan satu tahun

 

Dan jika ada warga yang tidak pernah sekolah sama sekali dalam menempuh pendidikan SMP maupun SMA, maka dia harus mengikuti pendidikan selama tiga tahun. Karena program Paket C dan B tidak ada bedanya dengan sekolah reguler. Hanya yang membedakan biasanya adalah usia. Karena peserta Program Kejar Paket C dan B rata-rata sudah masuk pada usia tua, yakni usia 35-50 tahun. Bahkan, ada siswa Kejar Paket C yang berumur 60 tahun,” paparnya.

 

Dengan adanya dugaan dukumen dan ijazah yang di Perjualbelikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Harapan Bunda di Kecamatan Tamalate dan Juga Salaseorang Cakades Yakni Haeruddin daeng Riu Yang diduga memiliki beberapa Tambang Ilegal akan dilaporkan oleh LSM ke Polda Sulawasi-Selatan”Why/Fatimah

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *