BERITA  

Kayu Tanam Jadi Gerbang Kebangkitan Kereta Api Sumbar! Jalur 15,3 Kilometer Menuju Padang Panjang Ditargetkan Direaktivasi 2027, Andre Rosiade dan KAI Soroti 6.800 Bangunan di Sepanjang Rel

PADANG PARIAMAN | Kayu Tanam kembali menjadi titik penting dalam peta pembangunan transportasi Sumatera Barat. Rencana menghidupkan kembali jalur kereta api Kayu Tanam–Padang Panjang bukan sekadar mengaktifkan rel yang lama tidak beroperasi, tetapi membuka peluang kebangkitan konektivitas, perdagangan, pariwisata, dan ekonomi masyarakat. Pencanangan reaktivasi yang berlangsung di Stasiun Kereta Api Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Selasa (27/10/2026), menjadi langkah awal dari rencana besar mengembalikan kejayaan transportasi kereta api di Ranah Minang.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa pengaktifan kembali jaringan perkeretaapian Sumatera Barat akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama difokuskan pada lintas Kayu Tanam–Padang Panjang sepanjang 15,3 kilometer yang direncanakan mulai direaktivasi pada 2027. Selanjutnya, pengembangan jaringan diarahkan menuju Solok dan Sawahlunto. Jalur tersebut akan menggunakan rel bergerigi yang disesuaikan dengan karakter geografis Sumatera Barat yang memiliki kontur perbukitan dan tanjakan.

Namun, di balik rencana besar tersebut, terdapat persoalan serius yang membutuhkan penyelesaian lintas sektor. PT KAI mengidentifikasi sekitar 6.800 bangunan yang berpotensi mengganggu ruang bebas jalur kereta api. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena keselamatan operasional membutuhkan ruang yang memadai di sisi kanan dan kiri rel. Selain itu, karakter geografis wilayah serta potensi bencana alam juga harus diperhitungkan secara matang. Bobby meminta dukungan Forkopimda Sumatera Barat untuk melakukan sosialisasi dan membangun pemahaman bersama masyarakat terkait penataan kawasan perkeretaapian.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menyambut baik perhatian pemerintah terhadap reaktivasi jalur kereta api Sumatera Barat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi PT KAI dan pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan bangunan di sepanjang jalur rel melalui komunikasi dengan masyarakat. Andre juga menjelaskan bahwa lahan yang menjadi bagian dari persoalan tersebut merupakan aset PT KAI yang telah bersertifikat. Karena itu, proses penataan perlu dilakukan dengan dialog, sosialisasi, kepastian hukum, dan memperhatikan hak masyarakat yang terdampak.

Bagi Padang Pariaman, khususnya Kayu Tanam, reaktivasi ini merupakan peluang strategis yang tidak boleh disia-siakan. Konektivitas kereta api berpotensi membuka akses ekonomi baru, memperkuat pergerakan perdagangan, meningkatkan kunjungan wisata, serta memudahkan mobilitas masyarakat antardaerah. Namun, peluang tersebut harus diikuti kesiapan kawasan, fasilitas pendukung, akses menuju stasiun, pengembangan UMKM, dan perencanaan ekonomi lokal. Pemerintah daerah perlu memastikan masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi turut memperoleh manfaat dari hadirnya kembali transportasi perkeretaapian.

Kini, perhatian tertuju pada keseriusan pemerintah pusat, PT KAI, pemerintah daerah, Forkopimda, dan masyarakat dalam merealisasikan rencana tersebut. Target reaktivasi 2027 harus didukung perencanaan teknis, penyelesaian persoalan ruang bebas rel, mitigasi bencana, serta komunikasi publik yang transparan. Kayu Tanam berpeluang menjadi pintu kebangkitan jaringan kereta api Sumatera Barat. Jika dikelola dengan baik, bukan hanya perjalanan kereta yang kembali hidup, tetapi juga denyut ekonomi dan potensi wilayah yang selama ini menunggu konektivitas lebih kuat. Kebangkitan transportasi harus berjalan seiring dengan keselamatan, kepastian hukum, dan kesejahteraan masyarakat.

Wyndoee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *