BERITA  

Seminar Hari Santri Nasional 2026, Resty Yulandari Rahmat Libatkan 100 Pelajar dan Santri, Wabup Tegaskan Akhlak dan Keselamatan Anak Tak Boleh Diabaikan

PADANG PARIAMAN | Perundungan atau bullying bukan lagi persoalan sepele di lingkungan pendidikan. Perilaku yang kerap dianggap sebagai candaan tersebut dapat meninggalkan luka psikologis, merusak kepercayaan diri, bahkan mengganggu masa depan anak. Menyikapi tantangan tersebut, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Padang Pariaman mengambil langkah edukatif dengan menggelar Seminar Hari Santri Nasional 2026 di Hall IKK Parik Malintang, Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini menjadi ajakan terbuka kepada generasi muda untuk berani menolak perundungan, menjauhi pergaulan bebas, serta memperkuat akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Bupati Padang Pariaman, Rahmat Hidayat, hadir bersama Kapolres Padang Pariaman AKBP Riyana Purwasari sebagai narasumber, Ketua GOW Ny. Resty Yulandari Rahmat, para ketua organisasi wanita, kepala sekolah dan pesantren, guru pendamping, pengurus Forum Anak, serta para pelajar dan santri. Rahmat menegaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum ini harus menjadi pengingat atas perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan, sekaligus menghidupkan kembali nilai kedisiplinan, kemandirian, ilmu pengetahuan, dan akhlak mulia.

Tema kegiatan, “Santri Sehat, Ilmu Hebat, Akhlak Kuat! Tolak Perundungan, Jauhi Pergaulan Bebas dan Penyimpangan Seksual”, dinilai sangat relevan dengan tantangan generasi muda saat ini. Rahmat berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di sekolah, pesantren, keluarga, dan lingkungan pergaulan. Kehadiran Kapolres AKBP Riyana Purwasari sebagai narasumber juga memberikan ruang penguatan kesadaran mengenai pentingnya perilaku yang bertanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, serta pemahaman tentang konsekuensi tindakan yang merugikan orang lain.

Ketua GOW Padang Pariaman, Ny. Resty Yulandari Rahmat, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya seminar. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas perwakilan santri, organisasi di lingkungan pesantren, SMP Islam Terpadu, MTsN, serta guru pendamping. Resty menekankan bahwa santri memiliki peran strategis sebagai penjaga moral bangsa, benteng akidah, dan penggerak kemajuan umat. Karena itu, generasi muda harus dibekali pemahaman yang kuat agar tidak mudah terpengaruh perilaku negatif dan mampu membangun lingkungan pergaulan yang sehat.

Namun, perang terhadap perundungan tidak cukup dilakukan melalui seminar satu hari. Sekolah dan pesantren perlu memiliki mekanisme pengaduan yang aman, pendampingan bagi korban, pembinaan terhadap pelaku, serta keterlibatan orang tua dan tenaga pendidik. Anak yang menjadi korban harus mendapatkan perlindungan, sementara setiap laporan wajib ditangani secara serius tanpa mempermalukan atau menyalahkan korban. Penguatan perlindungan anak juga perlu mengacu pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Perlindungan Anak. Pendidikan karakter harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan.

Melalui kegiatan ini, GOW bersama Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berharap lahir generasi yang sehat, cerdas, berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki keberanian membela sesama dari tindakan perundungan. Pesan Rahmat Hidayat dan keterlibatan Kapolres AKBP Riyana Purwasari menjadi pengingat bahwa perlindungan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama. Jangan biarkan bullying dianggap sebagai tradisi senioritas, jangan biarkan korban memilih diam karena takut, dan jangan biarkan lingkungan pendidikan menjadi tempat tumbuhnya kekerasan. Masa depan Padang Pariaman membutuhkan generasi yang kuat ilmunya, luhur akhlaknya, serta menghargai martabat setiap manusia.

Wyndoee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *