BERITA  

Masuki Transisi Pemulihan, BWS V Sumatera Fokus Tangani Sungai di Kabupaten Solok

SHOOTLINENEWS, KABUPATEN SOLOK — Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V akan melanjutkan penanganan aliran sungai di Kabupaten Solok selama enam minggu ke depan, seiring berakhirnya masa tanggap darurat bencana dan dimulainya masa transisi pemulihan.

Penanganan tersebut menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana susulan setelah galodo melanda kawasan Arosuka dan sekitarnya. Kondisi aliran sungai, sedimentasi, serta keberadaan material yang terbawa arus menjadi sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian dalam tahap pemulihan.

Komitmen penanganan sungai oleh BWS Sumatera V disampaikan dalam rapat koordinasi evaluasi penanganan bencana Kabupaten Solok, Senin (12/10/2026), yang dihadiri Bupati Solok Jon Firman Pandu, Wakil Bupati H. Candra, Sekretaris Daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, dan satuan tugas penanganan bencana.

Dalam rapat tersebut, penanganan aliran sungai menjadi salah satu agenda yang perlu ditindaklanjuti selama masa transisi, terutama pada lokasi terdampak yang membutuhkan penanganan teknis untuk mendukung keselamatan masyarakat dan pemulihan infrastruktur.

Normalisasi Sungai Dekat Gedung DPMN Jadi Perhatian.

Salah satu lokasi yang mendapat perhatian adalah aliran sungai di sekitar gedung DPMN Kabupaten Solok. Dalam rapat disampaikan bahwa posisi dasar sungai di kawasan tersebut lebih tinggi daripada bangunan di sekitarnya.

Kondisi itu menjadi alasan pentingnya penanganan dan normalisasi sungai untuk mengurangi risiko luapan air yang dapat mengancam kawasan tersebut.
Wakil Bupati Solok H. Candra menekankan perlunya penanganan cepat pada lokasi itu.

Upaya tersebut membutuhkan koordinasi dengan instansi teknis agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan kondisi sungai dan karakteristik wilayah terdampak.

Normalisasi sungai perlu didahului atau disertai pemeriksaan teknis terhadap kondisi alur, sedimentasi, serta kapasitas sungai. Dengan demikian, penanganan yang dilakukan tidak hanya memindahkan material, tetapi juga mempertimbangkan fungsi aliran sungai dan potensi risiko di sekitarnya.

BPBD Rekomendasikan Sabo Dam di Kawasan Hulu.

Selain normalisasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok merekomendasikan pembangunan sabo dam di salah satu titik kawasan hulu yang memiliki kemiringan hingga 45 derajat.

Sabo dam merupakan bangunan pengendali sedimen yang dirancang untuk mengendalikan pergerakan material, seperti batu, pasir, dan kerikil, yang terbawa aliran deras dari kawasan hulu.

Rekomendasi tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap penanganan risiko galodo, terutama untuk mengendalikan material yang berpotensi bergerak menuju kawasan hilir saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

BPBD juga merencanakan penelusuran sungai bersama unsur TNI dan Polri untuk melihat kondisi lapangan serta mengidentifikasi titik yang membutuhkan penanganan.

Meski demikian, pembangunan sabo dam memerlukan kajian teknis lebih lanjut, termasuk penentuan lokasi, desain, kapasitas, dan kesesuaiannya dengan karakteristik daerah aliran sungai. Status rekomendasi tersebut juga perlu ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan instansi teknis yang berwenang.

Enam Minggu untuk Mendukung Pemulihan

Keberadaan tim BWS Sumatera V di Kabupaten Solok selama enam minggu ke depan diharapkan dapat mendukung penanganan aliran sungai di wilayah terdampak.

Perhatian terhadap kondisi sungai menjadi penting karena pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan bangunan dan akses jalan, tetapi juga penanganan lingkungan yang berkaitan dengan risiko bencana berikutnya.

Dalam masa transisi pemulihan, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, BWS Sumatera V, serta unsur TNI dan Polri diperlukan untuk menyelaraskan langkah penanganan sesuai kewenangan masing-masing.

Pemeriksaan kondisi sungai dan penentuan prioritas penanganan menjadi bagian penting untuk memastikan pekerjaan dilakukan berdasarkan kebutuhan lapangan.
Berakhirnya masa tanggap darurat bukan berarti upaya mitigasi dihentikan. Sebaliknya, tahap transisi menjadi kesempatan untuk memperkuat langkah pengurangan risiko sekaligus mendukung pemulihan wilayah dan aktivitas masyarakat terdampak.

Dengan fokus penanganan aliran sungai selama enam minggu ke depan, BWS Sumatera V diharapkan dapat mendukung upaya pemulihan Kabupaten Solok sekaligus memperkuat langkah mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi berikutnya.

Catatan redaksi: Sebelum diterbitkan, konfirmasikan kepada BWS Sumatera V mengenai lokasi sungai yang menjadi prioritas, jenis pekerjaan yang akan dilakukan selama enam minggu, serta tindak lanjut rekomendasi pembangunan sabo dam. Naskah ini membedakan rencana penanganan sungai dari rekomendasi BPBD yang belum tentu telah menjadi program resmi BWS Sumatera V.STK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *