Aceh Tamiang, Shootlinenews.com — Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, M.H., menegaskan pentingnya penanganan terpadu sedimentasi Sungai Tamiang sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mitigasi bencana, terutama lewat dukungan komunikasi darurat dari Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Sabtu, (17/10/2026).
Pernyataan itu disampaikan saat pembukaan Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) ORARI Lokal Aceh Tamiang Tahun 2026 yang mencatat rekor keikutsertaan tertinggi sepanjang sejarah, yakni 116 peserta angka terbanyak di Aceh sejak 1987.
“Tidak ada kata terlambat untuk membangun mitigasi bencana di Aceh Tamiang,” ujar Armia Pahmi di hadapan peserta ujian dan pengurus ORARI.
Ia menekankan keterlibatan masyarakat, termasuk para anggota ORARI, sangat vital. Ketika jaringan telekomunikasi konvensional terputus saat bencana, jaringan komunikasi amatir radio menjadi garis kehidupan. ORARI diharapkan aktif menjaga komunikasi antarwilayah, menyebarkan informasi kebencanaan, serta mendukung koordinasi jalur evakuasi.
Sementara itu, persoalan sedimentasi Sungai Tamiang kian mendesak. Dari total panjang alur sungai sekitar 200 kilometer, pengerukan sejauh 6 kilometer yang telah berjalan sekitar enam bulan masih belum tuntas. Tercatat ada sekitar 80 titik pendangkalan kritis yang membutuhkan penanganan segera, antara lain di Lubuk Sidung, Ara 9, Sekumur, Balengkar, Simpang Jernih, dan sekitar jembatan menuju Kota Lintang.
Penyebab pendangkalan tidak tunggal. Penebangan liar, alih fungsi kawasan hulu menjadi perkebunan, serta curah hujan tinggi mempercepat erosi. Material tanah dan kayu terbawa arus dan mengendap di sepanjang alur sungai. Pengerukan saja tidak cukup.
“Dibutuhkan langkah terpadu: pengendalian erosi, perlindungan kawasan hulu, pemulihan daerah resapan air, dan pengelolaan aliran sungai secara berkelanjutan,” tegasnya.
Saat ini, Satuan Tugas Kuala yang melibatkan Kementerian Pertahanan telah membantu pengerukan dengan dukungan alat berat dan tiga kapal penyedot lumpur. Namun, debit air yang meningkat saat musim hujan membatasi efektivitas pekerjaan.
Sebagai langkah sementara, pemerintah daerah telah mengajukan permohonan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ke BNPB dan mendesak dukungan pemerintah pusat untuk penanganan sedimentasi dalam skala besar. Jangka panjangnya, kajian pembangunan waduk atau kolam retensi, termasuk di kawasan Cekrak, juga direncanakan.
Armia Pahmi berharap antusiasme masyarakat dalam mengikuti UNAR bukan sekadar ujian keterampilan, melainkan awal dari gerakan bersama: siap siaga bencana, komunikasi andal saat darurat, dan kepedulian menjaga lingkungan di sepanjang Sungai Tamiang.














