SHOOTLINENEWS | KABUPATEN SOLOK
Mengantisipasi potensi curah hujan tinggi pada November 2026, Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.H.I., meminta perhatian khusus Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terhadap penanganan pascabencana di kawasan Arosuka, Kabupaten Solok.
Permintaan tersebut disampaikan saat menerima kunjungan Victor Rembeth, Pengarah Khusus BNPB, bersama jajaran di rumah dinas Wakil Bupati Solok. Pertemuan itu turut dihadiri Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok, Khairul, S.Sos., beserta jajaran.
Setelah pertemuan, rombongan melanjutkan peninjauan langsung ke lokasi terdampak untuk melihat kondisi lapangan dan mengidentifikasi kebutuhan penanganan pascabencana.
Dalam kesempatan tersebut, Wabup Candra meminta agar penanganan kawasan terdampak mendapat perhatian khusus, terutama dengan mempertimbangkan informasi mengenai potensi curah hujan yang sangat tinggi pada November mendatang.
Antisipasi ini dinilai penting mengingat kawasan yang telah terdampak bencana masih membutuhkan penanganan dan penguatan pada sejumlah titik. Hujan dengan intensitas tinggi berpotensi meningkatkan risiko bencana susulan apabila kondisi lingkungan dan aliran sungai belum ditangani secara memadai.
Karena itu, langkah mitigasi dan pengamanan kawasan terdampak perlu dipersiapkan sebelum potensi cuaca ekstrem terjadi.
Dalam peninjauan tersebut, Victor Rembeth memberikan arahan terkait penanganan material batu yang telah disusun di pinggir aliran sungai.
Ia meminta agar susunan batu dan material tersebut dipadatkan serta diberi perekat untuk memperkuat susunannya.
Arahan ini menjadi salah satu perhatian dalam upaya penanganan kawasan terdampak. Pelaksanaannya perlu ditindaklanjuti oleh instansi terkait melalui kajian teknis yang sesuai dengan karakteristik aliran sungai dan kondisi lapangan, sehingga langkah yang dilakukan benar-benar mendukung pengurangan risiko bencana.
Peninjauan langsung tersebut juga menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah dan BNPB untuk melihat kebutuhan penanganan secara lebih dekat.
Namun, efektivitas penanganan selanjutnya akan sangat bergantung pada tindak lanjut hasil peninjauan, kesiapan pelaksanaan pekerjaan, serta koordinasi antarlembaga yang bertanggung jawab.
Di tengah upaya penanganan pascabencana, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada kunjungan dan koordinasi pemerintah. Warga terdampak membutuhkan kepastian bahwa kerusakan yang terjadi ditangani, kawasan rawan diperkuat, dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dengan aman.
Potensi curah hujan tinggi pada November menjadi alasan penting untuk mempercepat langkah mitigasi. Penanganan yang terlambat berpotensi memperbesar kerentanan kawasan yang sebelumnya telah terdampak bencana.
Karena itu, permintaan Wabup Candra agar BNPB memberikan perhatian khusus perlu diikuti langkah konkret, baik dalam penanganan aliran sungai maupun kebutuhan pemulihan lainnya sesuai hasil asesmen teknis.
Publik juga perlu memperoleh kejelasan mengenai tindak lanjut arahan BNPB, pihak yang bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan, jadwal pelaksanaan, serta dukungan yang dibutuhkan untuk memastikan penanganan berjalan sesuai prioritas.
Kehadiran Pengarah Khusus BNPB di lokasi terdampak menjadi bagian dari proses identifikasi dan koordinasi. Tahap berikutnya yang tidak kalah penting adalah memastikan hasil peninjauan diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.
Bagi masyarakat Arosuka, keberhasilan penanganan pascabencana bukan semata-mata diukur dari kunjungan pejabat atau pertemuan koordinasi, melainkan dari meningkatnya keamanan lingkungan, berkurangnya risiko bencana susulan, dan pulihnya kehidupan warga.
Dengan potensi hujan tinggi yang perlu diantisipasi, tindak lanjut penanganan menjadi hal yang mendesak agar upaya mitigasi dapat dilakukan sebelum risiko berikutnya muncul. STK














