PADANG PARIAMAN | Malam di Lubuk Alung itu tak sekadar diisi obrolan santai dan secangkir kopi. Di Cafe Lega, denyut demokrasi lokal justru terasa hidup. Seorang anggota DPRD Padang Pariaman dari Fraksi PAN, Taufik Hidayat, memilih ruang yang tak biasa untuk menjalankan resesnya. Bukan aula resmi, bukan pula kantor wali nagari, melainkan sebuah kafe yang akrab bagi warga. Pilihan tempat itu sengaja diambil: agar suara rakyat mengalir tanpa sekat.
Dalam reses yang digelar pada Jumat malam, Taufik menegaskan kembali posisi seorang legislator sebagaimana diamanatkan Undang-Undang MD3 dan kode etik DPR. Menurutnya, anggota dewan bukan sekadar pembuat regulasi, tetapi wakil rakyat yang wajib amanah, responsif, dan mengutamakan kepentingan publik di atas segalanya.
“Reses adalah momentum paling jujur bagi wakil rakyat. Di sinilah kami mendengar langsung keluhan, harapan, dan usulan masyarakat tanpa perantara,” ujar Taufik di hadapan warga dari tiga kecamatan Dapil II: Lubuk Alung, Batang Anai, dan Sintoga.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa reses memiliki fungsi strategis dalam sistem demokrasi. Selain menyerap aspirasi, reses juga menjadi alat pengawasan kinerja pemerintah daerah, sekaligus bentuk pertanggungjawaban politik kepada konstituen yang telah memberikan mandat.
Yang menarik, perubahan lokasi reses kali ini bukan tanpa alasan. Taufik mengakui, suasana kafe memberi ruang psikologis yang lebih cair bagi masyarakat. Tidak ada jarak formal, tidak ada rasa sungkan. Semua duduk sejajar, berdiskusi sebagai sesama warga yang mencintai daerahnya.
“Biasanya saya lakukan di kantor wali nagari. Tapi kali ini saya ingin suasana berbeda, supaya masyarakat lebih nyaman, lebih fokus, dan berani menyampaikan apa yang sebenarnya mereka rasakan,” ungkapnya.
Hasilnya terasa nyata. Diskusi berlangsung hangat dan hidup. Warga dari berbagai nagari menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, terutama dampak bencana alam yang masih menyisakan luka pada ekonomi dan infrastruktur. Perbaikan permukiman, jalan rusak, hingga jembatan penghubung menjadi aspirasi yang paling banyak disuarakan.
Harapan besar pun dititipkan pada Pokok Pikiran (Pokir) DPRD yang melekat pada diri Taufik Hidayat. Masyarakat berharap alokasi Pokir tersebut benar-benar menyentuh kebutuhan riil di lapangan dan mampu menjadi pemantik pemulihan ekonomi pascabencana.
Taufik menanggapi aspirasi itu dengan serius. Ia menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan setiap masukan agar masuk dalam perencanaan dan pembahasan anggaran daerah. “Pokir bukan milik pribadi anggota dewan, tapi milik rakyat. Tugas kami memastikan itu kembali ke masyarakat dalam bentuk program nyata,” tegasnya.
Selain isu pembangunan, reses tersebut juga menjadi ruang edukasi politik. Menjelang Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) serentak, Taufik mengingatkan pentingnya kecerdasan politik masyarakat. Ia mengajak warga agar memilih calon wali nagari yang berintegritas, memahami kebutuhan nagari, dan mampu mengelola pemerintahan secara transparan.
“Pembangunan nagari tidak hanya ditentukan oleh anggaran, tetapi juga oleh kualitas pemimpinnya. Pilihlah yang benar-benar bekerja untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi,” pesannya.
Malam itu, Cafe Lega bukan sekadar tempat berkumpul. Ia menjelma menjadi ruang demokrasi akar rumput, tempat suara rakyat bertemu langsung dengan wakilnya. Dari meja kafe itulah, harapan-harapan kecil masyarakat Padang Pariaman berharap menemukan jalannya menuju meja kebijakan.
TIM













