BERITA  

Pilwana Paninggahan: Beda Pilihan, Tetap Bersaudara, Menuju Paninggahan Emas

SHOOTLINENEWS, SOLOK — Kontestasi Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, mulai memasuki babak baru. Setelah masyarakat menjalani proses demokrasi dengan pilihan masing-masing, pesan persatuan dan rekonsiliasi kini mengemuka di tengah masyarakat.

Pesan tersebut menjadi penting karena Pilwana bukan hanya tentang memenangkan suara, tetapi juga bagaimana seluruh elemen masyarakat kembali menyatukan langkah setelah kontestasi berakhir.

Dalam penetapan nomor urut calon yang dilakukan Panitia Pemilihan Wali Nagari (P2WN) Paninggahan pada 4 Agustus 2026, terdapat tiga calon yang ditetapkan. Mafril Ahmad memperoleh nomor urut 1, Jasman, S.Ag. nomor urut 2, dan Jufrizal, A.Md. nomor urut 3.

Nama Mafril Ahmad sebelumnya juga diberitakan sebagai calon nomor urut 1 sekaligus putra almarhum Ahmad Koto, mantan Wali Nagari Paninggahan.

Dalam dinamika dukungan selama tahapan Pilwana, H. David Level Nine disebut sebagai salah satu tokoh perantau yang menyatakan dukungan kepada Mafril Ahmad. Dukungan tersebut disampaikan bersama sejumlah tokoh perantau lainnya.

Sementara pada kubu nomor urut 3, Jufrizal, A.Md. juga sebelumnya telah menggelar silaturahmi dan rekonsiliasi bersama tim pemenangan serta masyarakat. Pesan yang dibawa adalah merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan pilihan politik.

Setelah pemungutan suara, suasana persaingan mulai bergeser menjadi pesan kebersamaan. H. Beye Jaysky yang berada dalam barisan Tim Relawan dan Pemenangan 03 menyampaikan ucapan selamat kepada Mafril Ahmad berdasarkan perhitungan suara sementara.

Ucapan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa perbedaan pilihan dalam Pilwana tidak semestinya menjadi batas dalam hubungan sosial masyarakat.

Sikap tersebut menunjukkan adanya ruang untuk membangun rekonsiliasi antarkelompok pendukung. Dalam masyarakat nagari yang memiliki hubungan kekerabatan dan sosial yang kuat, persaingan politik idealnya berhenti ketika tahapan pemilihan selesai.

Pesan yang kemudian mengemuka adalah pentingnya meminta maaf kepada seluruh tim pemenangan dan pendukung kandidat yang telah ikut menyukseskan Pilwana Paninggahan.

“Biduk lalu, kiambang batawik.”

Ungkapan itu menjadi gambaran bahwa setelah melewati sebuah perjalanan dan perbedaan, kehidupan bersama harus kembali menyatu. Pilihan politik boleh berbeda, tetapi hubungan sebagai sesama anak nagari harus tetap dijaga.

Kepada pendukung Mafril Ahmad, pesan yang disampaikan juga menempatkan kemenangan bukan sebagai akhir perjuangan. Justru, apabila nantinya telah ditetapkan secara resmi, kemenangan tersebut merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk membangun nagari.

Seluruh pendukung diharapkan tidak hanya memberikan dukungan ketika masa kampanye, tetapi juga ikut menjaga pemerintahan nagari agar mampu bekerja secara terbuka, merangkul seluruh masyarakat dan menjalankan pembangunan berdasarkan kebutuhan bersama.

Semangat Paninggahan Emas pun diharapkan tidak menjadi milik satu kandidat atau satu kelompok. Gagasan tersebut harus menjadi cita-cita bersama seluruh masyarakat Paninggahan.

Untuk mewujudkannya, pemerintah nagari membutuhkan dukungan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, perantau serta seluruh lapisan masyarakat.

Modal sosial berupa gotong royong dan semangat saling membantu yang telah lama tumbuh dalam kehidupan masyarakat Paninggahan menjadi kekuatan penting menghadapi agenda pembangunan ke depan.

Karena itu, proses demokrasi seharusnya tidak meninggalkan masyarakat dalam kondisi terpecah berdasarkan pilihan politik. Sebaliknya, Pilwana dapat menjadi momentum memperkuat kedewasaan berdemokrasi.

Beda pilihan tidak berarti berbeda tujuan.

Tujuan akhirnya tetap sama: menghadirkan pemerintahan nagari yang mampu bekerja untuk kepentingan seluruh masyarakat.

Dengan semangat tersebut, siapa pun yang nantinya ditetapkan secara resmi sebagai Wali Nagari Paninggahan memiliki tanggung jawab untuk merangkul seluruh kandidat, tim pendukung dan masyarakat yang sebelumnya berada dalam pilihan berbeda.

Sebab membangun nagari tidak cukup hanya dengan kemenangan dalam pemilihan. Dibutuhkan persatuan, kolaborasi, kepercayaan dan kesediaan seluruh anak nagari untuk kembali berjalan bersama.

Pilwana boleh berkompetisi. Setelahnya, Paninggahan harus kembali menjadi satu keluarga.

Biduk lalu, kiambang batawik. Menuju Paninggahan Emas dengan persaudaraan. STK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *