BERITA  

Miliki Ribuan Hektare Perkebunan, JFP–Candra Buka Peluang Penguatan Kopi dan Kakao Kabupaten Solok

SHOOTLINENEWS, SOLOK — Pengembangan sektor perkebunan menjadi salah satu peluang strategis bagi Kabupaten Solok untuk memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal. Di bawah kepemimpinan Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati H. Candra, komoditas kopi dan kakao memiliki ruang untuk dikembangkan melalui peningkatan produktivitas, penguatan usaha tani, serta perluasan pasar.

Kabupaten Solok memiliki basis perkebunan kopi yang cukup besar. Berdasarkan Buku Database Potensi Produksi Pertanian Kabupaten Solok Tahun 2025 yang diterbitkan Dinas Pertanian setempat, luas tanaman kopi Arabika mencapai 2.497,80 hektare, sedangkan kopi Robusta tercatat seluas 6.601,75 hektare.

Jika digabungkan, luas tanaman kedua jenis kopi tersebut mencapai 9.099,55 hektare. Sementara itu, luas tanaman kakao atau cokelat tercatat mencapai 3.725,75 hektare.

Data tersebut memperlihatkan besarnya peluang sektor perkebunan dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Tantangan berikutnya adalah mengoptimalkan potensi tersebut agar mampu menghasilkan produksi yang berkualitas, memiliki daya saing, dan memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi petani.

Pengembangan Kopi, Peluang Memperkuat Ekonomi Petani

Kopi menjadi salah satu komoditas yang berpeluang memperkuat posisi Kabupaten Solok dalam sektor perkebunan Sumatera Barat. Potensi yang telah berkembang di masyarakat dapat didukung melalui perbaikan budidaya, penyediaan bibit berkualitas, pendampingan teknis, dan penguatan pengolahan pascapanen.

Dukungan pemerintah pusat melalui program pengembangan perkebunan kopi turut membuka kesempatan untuk memperkuat basis produksi daerah.

Pengembangan tersebut membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah kabupaten, penyuluh pertanian, dan kelompok tani. Ketersediaan bibit perlu diikuti pendampingan agar tanaman dapat tumbuh optimal dan menghasilkan panen sesuai potensi lahan.

Selain meningkatkan produksi, perbaikan kualitas biji kopi juga menjadi faktor penting dalam memperluas akses pasar. Pengolahan yang tepat, standar mutu yang konsisten, serta penguatan identitas produk berdasarkan karakteristik wilayah dapat meningkatkan daya saing kopi Kabupaten Solok.

Kakao Berpeluang Dikembangkan Menjadi Produk Bernilai Tambah

Di samping kopi, kakao memiliki potensi untuk memperluas sumber pendapatan masyarakat perkebunan.

Dengan luas tanaman sekitar 3.725,75 hektare berdasarkan data pertanian 2025, kakao dapat dikembangkan melalui peningkatan produktivitas kebun, perbaikan penanganan hasil panen, serta penguatan proses fermentasi dan pengeringan biji.

Peluang pengembangan kakao juga terbuka pada sektor pengolahan. Produk turunan berbahan cokelat dapat menjadi ruang usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah apabila didukung keterampilan, teknologi pengolahan, akses pembiayaan, dan jaringan pemasaran.

Penguatan hubungan antara petani dan pelaku usaha menjadi penting agar hasil perkebunan memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas. Dengan demikian, manfaat pengembangan komoditas tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi bahan mentah, tetapi juga berpotensi mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru.

Infrastruktur dan Pasar Menentukan Keberhasilan

Pengembangan perkebunan kopi dan kakao membutuhkan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada budidaya. Akses jalan menuju sentra produksi, ketersediaan sarana pengolahan, kelembagaan petani, dan kepastian pasar turut menentukan keberlanjutan usaha perkebunan.

Pemerintah daerah dapat memperkuat perannya melalui fasilitasi kemitraan, peningkatan kapasitas kelompok tani, serta koordinasi program lintas sektor. Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan produksi dapat berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Pengelolaan perkebunan juga perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan kelestarian lingkungan. Dengan perencanaan yang baik, pengembangan komoditas dapat diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber daya alam.

JFP–Candra dan Peluang Penguatan Komoditas Unggulan

Di bawah kepemimpinan Jon Firman Pandu dan H. Candra, potensi perkebunan kopi dan kakao dapat menjadi salah satu pijakan dalam memperkuat ekonomi produktif Kabupaten Solok.

Besarnya areal tanaman yang telah tercatat merupakan modal awal. Selanjutnya, efektivitas program, kualitas pendampingan, produktivitas kebun, dan kemampuan menembus pasar akan menentukan sejauh mana potensi tersebut dapat memberikan manfaat nyata.

Ambisi menjadikan Kabupaten Solok sebagai salah satu sentra kopi dan kakao nasional membutuhkan langkah bertahap, mulai dari penguatan produksi di tingkat petani hingga pengembangan industri pengolahan dan pemasaran.

Dengan menghubungkan potensi lahan, dukungan program pemerintah, kapasitas petani, dan peluang pasar, sektor perkebunan berpeluang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan. STK

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *