JAKARTA | Peningkatan kasus campak di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menjadi peringatan serius bagi masyarakat. Laporan menunjukkan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah, dengan ratusan kasus terkonfirmasi dan puluhan anak meninggal dunia, yang sebagian besar belum mendapatkan imunisasi. Kondisi ini menegaskan bahwa campak bukan penyakit ringan. Dengan tingkat penularan yang sangat tinggi, di mana satu penderita dapat menularkan hingga 12–18 orang lain, virus ini mudah menyebar melalui batuk, bersin, percikan droplet, bahkan dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah penderita berada di suatu ruangan.
Gejala campak umumnya muncul 10–14 hari setelah terpapar virus dan berkembang dalam beberapa tahap. Pada fase awal, anak biasanya mengalami demam tinggi (≥38°C), batuk, pilek, dan mata merah (dikenal sebagai 3C: cough, coryza, conjunctivitis), serta muncul bercak putih kecil di dalam mulut yang disebut Koplik spot. Beberapa hari kemudian, muncul ruam merah yang dimulai dari wajah atau belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh. Meski sebagian anak dapat sembuh, campak juga dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, infeksi telinga, radang otak (ensefalitis), gangguan penglihatan, hingga kematian, terutama pada anak yang belum diimunisasi, bayi, dan anak dengan gizi buruk atau daya tahan tubuh lemah.
Sebagai ahli kesehatan masyarakat sekaligus dosen, saya melihat peningkatan kasus ini sangat berkaitan dengan menurunnya cakupan imunisasi dan masih adanya keraguan masyarakat akibat informasi yang tidak tepat mengenai vaksin. Padahal, vaksin campak terbukti aman dan efektif, dengan tingkat perlindungan hingga sekitar 97%. Di Indonesia, vaksin tersedia dalam bentuk MR dan MMR yang telah digunakan secara luas dalam program imunisasi nasional.
Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat khususnya orang tua untuk tidak menunda imunisasi anak. Melengkapi imunisasi bukan hanya melindungi anak secara individu, tetapi juga membantu mencegah penyebaran penyakit. Jika kita benar-benar menyayangi anak-anak kita, maka langkah paling sederhana dan berdampak besar yang dapat dilakukan adalah memastikan mereka mendapatkan imunisasi lengkap tepat waktu. Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati, dan dalam kasus campak, imunisasi adalah kunci utama untuk menyelamatkan generasi masa depan.
Penulis: Della Dwi Ayu, S.K.M., M.K.M. (Dosen S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta)













