BERITA  

Jejak Kebaikan Ekspedisi Seribu Pulau #10, Hidupkan Dakwah, Ekonomi Kreatif dan Kepedulian Sosial di Tidore

Sapi Kurban dan Ribuan Harapan dari Kalaodi, Kisah Pengabdian ESP #10 Menyentuh Hati Masyarakat Tidore

TIDORE | Perjalanan panjang menembus gugusan kepulauan Indonesia bagian timur membawa misi kemanusiaan dan pengabdian bagi Ekspedisi Seribu Pulau (ESP) ke-10. Mengusung tema “Cahaya Islam di Surga Rempah Nusantara”, kegiatan yang digagas Yayasan Kapal Ekspedisi ini tidak hanya menghadirkan program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan, tetapi juga membawa kebahagiaan besar bagi masyarakat Desa Kalaodi, Kecamatan Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, melalui kehadiran hewan kurban yang selama ini menjadi sesuatu yang sangat terbatas bagi warga setempat.

Ekspedisi yang berlangsung sejak 19 Mei hingga 8 Juni 2026 tersebut dipimpin oleh Project Leader Ahmad Khotibi dengan membawa semangat pengabdian lintas daerah. Para delegasi hadir bukan sekadar menjalankan agenda kegiatan, melainkan berupaya membangun hubungan, berbagi pengetahuan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah kepulauan yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah panjang sebagai bagian dari kawasan rempah Nusantara.

Salah satu momen yang paling berkesan dalam perjalanan ESP #10 adalah keberhasilan menghadirkan program kurban bagi masyarakat Desa Kalaodi. Melalui sosialisasi dan penggalangan infak dari berbagai pihak, terkumpul dana yang kemudian diwujudkan dalam bentuk satu ekor sapi dan dua ekor kambing kurban untuk masyarakat setempat.

Kehadiran hewan kurban tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi warga Kalaodi. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya pelaksanaan kurban di wilayah tersebut sering menghadapi keterbatasan. Bahkan dalam kondisi tertentu, masyarakat harus menerima kenyataan tidak adanya penyembelihan hewan kurban karena minimnya ketersediaan hewan kurban di desa mereka.

Bagi masyarakat Kalaodi, apa yang dibawa ESP #10 bukan hanya sekadar hewan kurban, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan hadirnya rasa kebersamaan dari masyarakat luas. Program tersebut menjadi bukti bahwa semangat berbagi dapat menjangkau wilayah-wilayah terpencil sekalipun, selama ada kepedulian dan kerja bersama.

Selain menghadirkan kebahagiaan melalui program kurban, ESP #10 juga menjalankan berbagai kegiatan pengabdian yang terbagi dalam beberapa bidang utama, yakni Pendidikan dan Dakwah, Ekonomi dan Lingkungan (Ekoling), serta Media Kreatif dan Pariwisata.

Dalam bidang Pendidikan dan Dakwah, salah satu kegiatan utama yang mendapat perhatian masyarakat adalah Festival Anak Saleh. Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak dari Kampung Gulili dan Dola dengan berbagai perlombaan keagamaan, seperti lomba Da’i dan Da’iyah, adzan, serta hafalan surah pendek.

Sebelum mengikuti perlombaan, para peserta tidak langsung tampil dalam kompetisi, tetapi terlebih dahulu mendapatkan pendampingan dan pembinaan secara rutin dari para delegasi ESP #10. Melalui proses tersebut, anak-anak tidak hanya dilatih untuk tampil percaya diri, tetapi juga diarahkan untuk mencintai nilai-nilai agama dan meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang keislaman.

Di sisi lain, Divisi Ekonomi dan Lingkungan (Ekoling) membawa sejumlah program yang bertujuan membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat. Salah satunya melalui pelatihan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin bernilai guna, serta pengolahan buah pala menjadi produk seperti manisan dan jamu yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Program tersebut diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat mengenai potensi lokal yang selama ini tersedia di sekitar mereka. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang tepat, hasil alam khas daerah dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih luas.

Sementara itu, Divisi Media Kreatif dan Pariwisata turut mengambil peran dalam mengenalkan potensi Desa Kalaodi. Melalui pelatihan fotografi dan dokumentasi, para delegasi membantu mengabadikan berbagai cerita masyarakat, budaya, serta kekayaan alam yang menjadi identitas wilayah tersebut.

Bagi para peserta ekspedisi, perjalanan menuju Kalaodi bukanlah sebuah perjalanan sederhana. Salah satu delegasi penerima pendanaan penuh ESP #10, Ica Khair asal Sumatera Barat, merasakan langsung panjangnya perjalanan menuju lokasi pengabdian.

Ia harus menempuh perjalanan hampir dua pekan dengan menggunakan kapal, melewati sejumlah titik transit seperti Makassar, Ambon, dan Baubau. Dalam perjalanan kembali, ia juga sempat singgah di beberapa pulau kecil di wilayah Halmahera sebelum menyelesaikan rangkaian ekspedisi.

Menurut Ica, pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari perubahan besar yang terlihat secara cepat. Hal terpenting adalah bagaimana kehadiran seseorang mampu menumbuhkan semangat, membangun kesadaran, memberikan motivasi kepada anak-anak, serta ikut menghidupkan aktivitas positif di tengah masyarakat.

Perjalanan ESP #10 juga menghadirkan pengalaman berharga bagi guest star kegiatan, Alfatahar. Ia menilai pengabdian di Desa Kalaodi menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan banyak nilai kehidupan, mulai dari kepedulian, kebersamaan, hingga pentingnya konsistensi dalam memberikan manfaat.

Menurutnya, pengabdian bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada masyarakat, tetapi juga tentang bagaimana setiap orang yang terlibat mampu belajar dari kehidupan masyarakat, memahami tantangan mereka, serta tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Ekspedisi Seribu Pulau #10 meninggalkan jejak yang lebih luas dari sekadar perjalanan fisik menuju wilayah kepulauan. Ia membawa pesan bahwa kepedulian, pendidikan, pemberdayaan, dan semangat berbagi dapat menjadi cahaya yang menghubungkan berbagai daerah di Indonesia.

Desa Kalaodi menjadi saksi bahwa langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan mampu menghadirkan kebahagiaan besar. Dari program kurban hingga pemberdayaan masyarakat, ESP #10 membuktikan bahwa pengabdian adalah tentang menghadirkan harapan dan membangun hubungan yang terus hidup setelah perjalanan berakhir.

TIM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *