SHOOTLINEWS.COM|Barito Selatan –Ritual badewa atau manyanggar lebu yang dilaksanakan oleh warga di desa janggi Kecamatan Karau Kuala kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Badewa atau manyanggar lebu merupakan adat budaya suku dayak bakumpai yang mendiami aliran sungai barito secara turun temurun untuk ritual pengobatan.Terlihat kegiatan ini masih dilaksanakan di Desa Janggi sebagai kultus budaya,adat dan kesenian seni lokal yang sangat dipertahan oleh suku dayak bakumpai Khususnya yang ada pada warga Desa Janggi.
Kegiatan badewa atau manyanggar lebu selalu dilaksanakan setiap tahun sebagai tolak bala mengusir roh-roh jahat sekaligus pengobatan secara alternatif yang sudah ratusan tahun secara turun temurun dilaksanakan Ketua Dewan Adat Dayak Desa Janggi “Aspul Anuar” beliau adalah anak dari Muekri atau Bapak tulur tokoh ada yang sudah di kenal luas di masyarakat Barito Selatan ( Almarhum).
Pengobatan badewa atau manyanggar lebu adalah ritual adat warga dayak bakumpai untuk mengobati dan sekaligus menolak bala wabah covid 19 yang masih belum berakhir ucap Satria salah satu warga Setempat di Desa Janggi Minggu,(06/08 /2022).


Ia mengatakan acara ritual badewa atau manyanggar lebu dilangsungkan selama tiga hari tiga malam berturut-turut ritual acar dari hari pertama sampai ketiga dilaksanakan batatabur (Pemangilan Roh),bawayang(Wayang),batuping(Bertupeng),batuyang( Ayunan),bamandui (mandi-mandi).
“Aspul Anwar” selaku ketua adat badewa atau manyanggar lebu, menyampaikan bahwa acara pengobatan ritual suku bayak bakumpai ini rutin setiap tahun dilaksanakan di Desa Janggi disamping acara pengusiran roh roh jahat atau pembersih ( manenga lebu) atau dikatakan menolak bala sekaligus adalah media pengobatan secara alternatif dengan harapan menjadi sebuah budaya kearifan lokal yang akan kami pertahankan untuk dilestarikan sebagai upaya mempertahan peninggalan atau utus ( keturunan) peninggalan suku dayak bakumpai yang ada khusus di Desa Janggi ungkapnya
Pewarta Husin














