Sisa Lumpur di Ujung Tongkat, Menjemput Nafas yang Sempat Tenggelam

  • Bagikan

Aceh Tamiang, Shootlinenews.com — Matahari siang itu membakar sisa-sisa banjir yang meninggalkan selimut abu tebal di sepanjang jalan, di pelataran sebuah Rumah Kreatif Tamiang di jalan lintas Medan-Banda Aceh, seorang pria tampak membungkuk di depan mesin sepeda motor, disebelahnya ditemani sebuah tongkat untuk bertopang berjalan.

Di tengah bengkel yang masih berserakan jejak lumpur kering itu, ia bergelut dengan onderdil. Sesekali keningnya berkerut dalam, seolah setiap putaran baut adalah teka-teki yang menguras seluruh isi kepalanya.

Suara gemerincing kunci pas beradu dengan mesin motor yang terbatuk. Di sana, Mariono (43) berdiri. Tubuhnya bertumpu pada sepasang tongkat ketiak yang sudah nampak usang, namun tangannya – tangan yang penuh guratan dan noda oli permanen bekerja dengan ketelitian seorang maestro.

Bagi lelaki yang akrab disapa Nono ini, bengkel bukan sekadar deretan obeng dan bau bensin. Bengkel adalah detak jantungnya.

“Dulu, saya hanya penonton dalam hidup saya sendiri. Hidup dari belas kasih, bergantung pada tangan orang lain,” kenang Nono pelan, Senin (16/3/2026).

Sebagai penyandang tunadaksa, Nono seringkali dianggap “selesai” oleh keadaan. Namun, lewat binaan Pertamina EP Rantau Field, ia menemukan bahwa kakinya yang tak sempurna dan keterbatasan itu tak bisa menghalangi jemarinya untuk menghidupkan kembali mesin yang mati.

Ada sebuah prinsip yang ia dekap erat, yaitu; Madep mantep (yang artinya teguh meyakini takdir) dan kebatinane mboten wonten napa-napane. Ia belajar mengosongkan batin dari rasa iri dan dendam pada nasib, agar syukur punya ruang untuk tumbuh. Berkat bengkel ini pula, Nono berani menatap mata seorang wanita dan mengajaknya membangun rumah tangga. Ia menikah bukan karena belas kasihan, tapi karena ia mampu menafkahi.

Saat Semesta Menjadi Sunyi

Namun, pada 26 November 2025, kebanggaan itu seolah dirampas paksa. Banjir bandang menerjang Aceh Tamiang. Air cokelat yang pekat tidak hanya merendam rumahnya, tapi juga menenggelamkan harapan yang ia bangun baut demi baut.

“Banjir itu mengambil semuanya. Alat-alat saya raib, mesin-mesin pelanggan rusak, dan bengkel kebanggaan kami berubah jadi gundukan lumpur dingin,” suara Nono tercekat.

Di pengungsian, Nono kembali merasakan getir yang dulu pernah ia tinggalkan dengan rasa tidak berdaya. Berhari-hari ia hanya bisa menatap air, bertanya-tanya apakah ia harus kembali menjadi beban bagi keluarganya.

Membasuh Luka dengan Doa dan Oli

Saat air surut, Nono tak menunggu bantuan datang sambil berpangku tangan. Dengan sepasang tongkatnya, ia terseok-seok menembus sisa lumpur setinggi betis. Ia mulai mengais, membersihkan lantai bengkel dengan sisa tenaga yang ada. Ia ingin “rumahnya” kembali.

Keajaiban itu datang melalui tangan-tangan yang peduli. Pertamina EP Rantau Field dan Pertamina Lubricants bergerak cepat. Pada Jumat (13/3) lalu, bengkel itu resmi bernafas kembali. Tidak hanya sekadar dibuka, namun dibangkitkan dengan semangat “Yuk Berbagi”. Sebanyak 282 botol oli gratis dibagikan untuk warga yang motornya juga sekarat dihantam banjir.

Iwan Ridwan Faizal dari PHR Regional 1 Sumatra mengungkapkan bahwa program ini adalah tentang martabat.

“Kami ingin kawan-kawan difabel ini kembali produktif. Mereka bukan objek kasihan, mereka adalah subjek perubahan,” tegasnya.

Kini, Nono kembali sibuk. Tangan yang sempat gemetar melihat kehancuran itu, kini mantap memegang botol oli baru. Dibukanya kembali bengkel ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal kembalinya harga diri seorang lelaki yang pernah kehilangan segalanya dalam semalam.

“Terima kasih saya masih diberi rezeki untuk berguna bagi orang lain,” ucap Nono sambil tersenyum tipis. Di balik punggungnya, matahari Aceh Tamiang bersinar lebih terang, seolah merestui setiap putaran baut yang ia kencangkan.

Penulis: Jasmani Editor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *