Aceh Tamiang, Shootlinenews.com — Harum tanah basah selepas hujan di Desa Rongoh, Kecamatan Tamiang Hulu, seketika berubah menjadi amis darah pada Rabu sore (18/3/2026). Di bawah langit yang mulai meredup sekitar pukul 17.00 WIB, sebuah pertemuan yang tak disengaja berubah menjadi ajang pelampiasan dendam yang telah lama mengerak di dada DMW (28).
Tragedi ini bukan sekadar tentang perkelahian biasa, melainkan tentang obsesi, penolakan, dan api cemburu yang gagal dipadamkan.
Akar dari pertikaian berdarah ini bermula dari sebuah kerinduan yang bertepuk sebelah tangan. DMW, yang pernah membina rumah tangga secara siri, rupanya belum bisa beranjak dari masa lalunya. Keinginannya untuk merajut kembali biduk rumah tangga yang telah karam justru menemui jalan buntu.
Sang mantan istri secara tegas menolak ajakan rujuk tersebut. Luka DMW semakin menganga ketika mengetahui bahwa sang mantan telah melabuhkan hatinya kepada pria lain, yakni WW (31).
“DMW diduga terbakar cemburu karena mantan istrinya menjalin hubungan asmara dengan WW dan menolak untuk kembali membina rumah tangga dengannya,” ungkap Kepala Desa (Datok) Rongoh, saat dikonfirmasi pada Jumat (20/3).
Rabu sore itu, takdir mempertemukan DMW dan WW di jalanan desa yang biasanya tenang. Tanpa ada rencana sebelumnya, pertemuan itu menyulut sumbu ledak emosi yang selama ini terpendam. Adu mulut hebat tak terhindarkan. Suasana desa mendadak tegang oleh teriakan dan makian.
“Awalnya kami kira cuma berantem mulut biasa soal masalah pribadi,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, yang berada tak jauh dari lokasi kejadian. “Tapi suaranya makin tinggi, suasananya berubah jadi sangat mencekam sebelum akhirnya ada keributan fisik.”
Di tengah kalapnya rasa sakit hati, DMW diduga mengeluarkan senjata tajam. Dalam sekejap, pertikaian lisan berubah menjadi serangan fisik yang brutal. WW tersungkur dengan luka menganga di bagian perut, sementara pelaku langsung melarikan diri dari lokasi kejadian, meninggalkan kepulan debu dan kepanikan warga.
Warga yang menyaksikan kejadian tersebut segera melarikan WW ke Puskesmas Tamiang Hulu. Tim medis berupaya keras menjahit luka dan menstabilkan kondisi pria berusia 31 tahun itu. Namun, senjata tajam yang merobek perut WW nampaknya meninggalkan kerusakan yang terlalu parah.
Salah seorang kerabat korban yang menunggu di koridor Puskesmas menceritakan suasana pilu malam itu. “Kami terus berdoa, berharap ada keajaiban. Dia sempat sadar sebentar, tapi kondisinya terus menurun,” tuturnya dengan suara parau.
Setelah bertahan selama hampir dua hari dalam masa kritis, takdir berkata lain. Tepat pada Jumat dini hari (20/3) sekitar pukul 02.00 WIB, WW mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kisah kelam bagi warga Desa Rongoh.
Memburu Keadilan
Hingga saat ini, pihak kepolisian setempat terus bergerak cepat melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap DMW. Kasus penganiayaan berat ini kini menjadi atensi utama aparat penegak hukum di wilayah Tamiang Hulu.
Kini, Desa Rongoh harus menanggung memori pahit bahwa cinta yang tak dikelola dengan akal sehat bisa berubah menjadi senjata yang mematikan. Warga berharap pelaku segera menyerahkan diri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.













