BERITA  

Dua Perempuan, Dua Pemimpin, Satu Harapan: JFP–Candra Tetap Seayun untuk Solok

SOLOK — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Solok, Senin (17/8/2026), tidak hanya menyisakan kekhidmatan prosesi pengibaran hingga penurunan Sang Merah Putih. Ada potret lain yang menarik dibaca dari momentum tersebut: kebersamaan dua pemimpin daerah bersama dua perempuan yang selama ini berada di sisi perjalanan pengabdian mereka.

Bupati Solok Jon Firman Pandu (JFP) menjalani rangkaian upacara pengibaran Bendera Merah Putih dengan didampingi sang istri, Ny. Nia Jon Firman Pandu, S.Si., M.Si., Ketua TP-PKK Kabupaten Solok.

Sore harinya, giliran Wakil Bupati Solok H. Candra, S.H.I. memimpin upacara penurunan Bendera Merah Putih di Stadion Tuanku Tabiang, GOR Batu Batupang, Kecamatan Kubung. Sang istri, Ny. Lian Octavia Candra, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Solok, turut mendampingi dalam momentum tersebut.

Dua perempuan, dua pemimpin, satu Merah Putih dan satu harapan: JFP–Candra tetap seayun membawa Kabupaten Solok ke depan.

Kehadiran Nia dan Lian tidak hanya dapat dilihat sebagai istri yang mendampingi suami dalam sebuah prosesi kenegaraan. Melalui TP-PKK dan GOW, keduanya juga memiliki ruang pengabdian yang bersentuhan dengan perempuan, keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam konteks sosial, keduanya dapat dipandang sebagai figur “ibu Kabupaten Solok” dengan ruang pengabdian masing-masing. Bukan sebagai bagian dari struktur pengambil kebijakan pemerintah, tetapi sebagai perempuan yang berada paling dekat dengan dua pemimpin yang setiap hari berhadapan dengan keputusan-keputusan penting bagi daerah.

Di sinilah dukungan keluarga memperoleh makna lebih dalam.

Mendampingi seorang kepala daerah bukan hanya hadir ketika seremoni berlangsung. Ada tanggung jawab moral untuk terus memberikan dukungan dan menjadi pengingat agar amanah yang berada di pundak pasangan tetap dijalankan dengan kejernihan, kehati-hatian dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.

Sebab setiap keputusan yang diambil Bupati dan Wakil Bupati bukan semata menyangkut perjalanan politik JFP ataupun Candra. Di balik keputusan tersebut terdapat harapan masyarakat, kepentingan nagari, keberlangsungan pembangunan dan masa depan Kabupaten Solok.

Nia dan Lian tentu memahami bahwa keputusan suami mereka hari ini dapat menentukan harapan banyak masyarakat Kabupaten Solok esok hari.

Potret kebersamaan dalam momentum HUT ke-81 RI tersebut menjadi semakin menarik ketika ditempatkan di tengah rumor dan spekulasi yang sempat berkembang mengenai hubungan kepemimpinan JFP–Candra. Faktor informal bahkan disebut-sebut dalam percakapan publik berpotensi memengaruhi kekompakan kedua kepala daerah.

Namun, apa yang terlihat dalam rangkaian pengibaran hingga penurunan Sang Merah Putih justru menghadirkan pesan berbeda.

JFP dan Candra tetap menjalankan peran masing-masing dalam satu rangkaian pemerintahan. Kehadiran keluarga masing-masing ikut melengkapi potret tersebut. Tentu sebuah momentum seremonial tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk membaca seluruh dinamika internal pemerintahan, tetapi setidaknya memperlihatkan bahwa amanah pemerintahan tetap berjalan dan hubungan dua kepala daerah tidak selayaknya diterjemahkan hanya berdasarkan rumor.

Banyak kalangan berharap hubungan keduanya memang tidak mudah direnggangkan oleh kepentingan ataupun faktor informal.

Harapan tersebut bukan sekadar tentang harmonisasi dua figur politik. Kabupaten Solok membutuhkan Bupati dan Wakil Bupati yang mampu bekerja dalam satu irama. Tantangan pembangunan, penguatan ekonomi masyarakat, pertanian, pendidikan, kesehatan, infrastruktur hingga peningkatan kualitas pelayanan publik membutuhkan soliditas pucuk pimpinan pemerintahan.

JFP dan Candra boleh memiliki karakter dan pembagian tugas berbeda, tetapi mandat yang diberikan masyarakat kepada keduanya mempunyai tujuan yang sama: membawa Kabupaten Solok menjadi lebih baik.

Di sinilah peran Nia dan Lian memiliki sisi humanis tersendiri.

Sebagai Ketua TP-PKK dan Ketua GOW, keduanya mempunyai kesempatan mendengar berbagai persoalan perempuan, keluarga dan kehidupan sosial masyarakat. Pengalaman tersebut dapat menjadi ruang untuk terus mengingatkan pasangan masing-masing mengenai realitas yang hidup di tengah masyarakat, tanpa memasuki kewenangan formal pengambilan keputusan pemerintahan.

Dukungan dari rumah semestinya menjadi energi agar seorang pemimpin semakin kuat menghadapi tekanan, semakin jernih membaca persoalan dan semakin tepat ketika harus mengambil keputusan.

Momentum HUT ke-81 RI pun memberikan refleksi yang relevan bagi perjalanan Kabupaten Solok.

Pengibaran Sang Merah Putih mengajarkan tentang meninggikan cita-cita, sementara penurunannya mengingatkan bahwa setiap kehormatan selalu membawa tanggung jawab.

Setelah seremoni berakhir, pekerjaan sesungguhnya kembali menunggu.

Masyarakat tidak membutuhkan pertarungan pengaruh di sekitar kekuasaan. Masyarakat membutuhkan Bupati dan Wakil Bupati yang seayun, saling menguatkan dan mampu menjaga mandat hingga akhir masa pengabdian.

Begitu pula keluarga yang berada paling dekat dengan keduanya. Dukungan terbaik bukanlah mendorong kepentingan tertentu, melainkan menjaga agar pemimpin tetap berdiri pada kepentingan masyarakat yang memberikan amanah.

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka menjadi pengingat bahwa persatuan selalu lebih besar daripada perbedaan dan kepentingan kelompok.

Merah Putih boleh diturunkan ketika petang tiba, tetapi semangat kebersamaan JFP–Candra jangan sampai ikut turun oleh rumor ataupun faktor informal.

Di sisi perjalanan itu ada Nia dan Lian, dua perempuan dengan ruang pengabdian masing-masing, yang diharapkan terus menjadi energi positif bagi pasangan mereka untuk tetap bijaksana, jernih dan tepat dalam menentukan langkah.

Dua perempuan, dua pemimpin, satu harapan: JFP–Candra tetap seayun untuk Solok. Sebab pada setiap keputusan yang mereka ambil, ada harapan masyarakat Kabupaten Solok yang menunggu untuk diwujudkan. STK