Jacob Ereste: Nilai Spiritual dan Intelektual IKN di Jakarta atau Harus Dipindah Ke Penajam, Kalimantan Timur Yang Tidak Bisa Diabaikan

  • Bagikan

JAKARTA | Tashawwuf‎ adalah gerakan Islam yang mengajarkan ilmu cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun lahir dan batin untuk memperoleh kebahagian. Pada awalnya tasawuf merupakan gerakan zuhud – upaya menjauhi dari hal-hal duniawi– dalam Islam. Lalu dalam perkembangannya kemudian melahirkan tradisi mistisme. Sehingga dalam tarekat — pelbagai aliran dalam Sufi — sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau gabungan dari beberapa tradisi yang ada. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, hingga sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh dunia. Sufisme merupakan sebuah konsep dalam Islam, yang didefinisikan oleh para ahli sebagai bagian dari oleh batin, sebagai dimensi mistis Islam. Sementara yang lain ada yang berpendapat sufisme itu adalah filosofi perenial yang telah ada sebelum kehadiran agama, lalu menjadi ekspresi diri yang terus berkembang seiring dengan perkembangan Islam.

Secara etimologi, kata “Sufi” diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu Suf – wol – karena merujuk kepada jubah yang acap digunakan oleh kaum asketik itu. Tapi nyatanya tak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Kafrenanya lalu ada juga yang mengatakan bahwa sufi berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Namun teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa yang berarti “kemurnian”. Agaknya, pengertian Sufisme pada gerakan memurnikan hati dan jiwa ini, bisa lebih diterima oleh banyak orang. Mengingat laku spiritual yang dominan dilakukan kaum sufi itu mengarah pada upaya membersihkan diri dari berbagai hal, utamanya yang berbau duniawi. Termasuk teori yang mengacu pada Bahasa Yunani bahwa tasawuf itu adalah theosofie yang artinya sebagai ilmu ketuhanan.

Jika demikian adanya, maka sufisme atau tashawwuf itu adalah theosofie – suatu ilmu tentang ketuhanan – yang kemudian bisa dipahami sebagai upaya untuk mendalami seluk beluk Tuhan secara ilmiah. Padahal, pada umumnya kaum sufi tak lagi mempertanyakan masalah Tuhan – apapun bentuk dan perwujudannya — karena bagi kaum sufi Tuhan itu adalah suatu keyakinan yang ada dan nyata, sehingga perlu dan penting untuk didekati dengan berbagai upaya – hingga kemudian – seperti mereka yang mengklaim dapat berdialog dan berbincang-bincang langsung dengan Tuhan, jadi seperti keistimewaan yang diperoleh para Nabi yang ditunjuk sebagai Wali Allah Subhanawata’ala di bumi.

Nabi itu sendiri bagi kaum sufi dipercaya sebagai manusia yang mendapat keistimewaan khusus dari Tuhan Yang Maha Kuasa pencipta jagat raya dan seisinya. Karena itu, dalam berbagai nyanyian serta puisi kaum sufi, puja dan puji yang mereka dedahkan muaranya menuju pada kebesaran Tuhan pencipta alam semesta dan seisinya yang terurai sepanjang jalan rachmatan lil alamin. Demikianlah resume dari berbagai dialog bersama mereka yang datang dari berbagai penjuru angin berikut dengan latar belakang pendidikannya masing-masing yang beragam berikut profesi yang mereka tekuni.

Di Indonesia cukup banyak ulama dan sarjana yang memberikan definisi tentang tasawuf atau sufisme. Salah satu diantara adalah ulama besar Indonesia Buya Hamka — H. Abdul Malik Karim Amrullah – ulama,  sastrawan dan penulis buku yang terbilang produktif di  Indonesia. Kariernya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar, menjadi bagian dari kekayaaan pengembaraan bathin yang tak dimiliki oleh banyak orang. Apalagi kemudian, perjalan sejarah petualangan keilmuan yang dijalani Buya Hamka sempat memasuki wilayah politik melalui Masyumi sebagai partai Umat Islam yang pernah berjaya di Indonesia pada masanya, hingga kemudian harus dibubarkan oleh Bung Karno.

Karenanya wajar, Buya Hamka pada masa Orde Baru menduduki kursi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama, dan aktif dalam organisasi massa Islam yang besar bernama Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia patut memberi anugerah gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Nama Buya Hamka kemudian disematkan dengan sangat terhormat untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan sosoknya masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Perjalanan spiritual Buya Hamka kecil pun dapat ditelisik mulai dari pendidikannya di Thawalib. Lalu menempuh perjalanan ke Jawa pada tahun 1924. Setahun kemudian kembali ke Padang Panjang untuk ikut mengembangkan Muhammadiyah. Meski catatan sejarah mengungkapkan, sebagai orang Muhamadiyah beliau justru pernah ditolak untuk menjadi guru di sekolah milik Muhammadiyah itu, hanya karena tak memiliki diploma. Artinya, Ketika dikemudian hari Buya Hamka mampu membangun Lembaga Pendidikan mulai dari tingkat terbawah hingga Pendidikan tertinggi, realitas ini membuktikan bahwa laku spiritual yang sesungguhnya itu tak memerlukan pengakuan, namun lebih mengutamakan laku, perbuatan, kerja nyata demi dan untuk kemaslahatan umat manusia, tanpa membedakan asal maupun usul, sebagaimana hakikat dari anugrah Allah SWT melalui rachmatan lil alamin.

Perjalanan intelektual Buya Hamka sampai ke Mekkah untuk memperdalam bahasa Arab, toh dilatar belakangi untuk mendalami bahasa dan sastra Islam secara otodidak dan usaha merintis karier kewartawan sambil bekerja sebagai guru agama di Deli. Setelah menikah, ia kembali ke Medan dan menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, nama Buya Hamka tidak lagi perlu disangsikan sebagai sastrawan sufi Indonesia.

Berbagai pengertian dan definisi tentang tasawuf pun bermunculan, namun benang merah yang menghubungkan akhlak, seperti yang dinukil oleh  Al-Hujwiri, cukup jelas.  Kecuali itu, Abu Hasan al-Nuri mengatakan bahwa tasawuf itu bukan bentuk dan bukan pulai ilmu, melainkan akhlak. Dan Abu Muhammad Murta’isy mengatakan at-tashawwuf husnul-khuluq, tasawuf itu adalah penghalusan dari pada akhlak. Jadi seacara umum, wilayah kisaran para kaum sufi adalah olah batin yang diikuti oleh olah pikir. Atas dasar inilah, oleh pikir kaum bagi sufi senantiasa dipimpin oleh olah bathin.
Semasa revolusi fisik – sebelum melakukan revolusi spiritual – Buya Hamka pun memperkaya pengalaman batinnya dengan ikut perang grilya di Sumatra Barat bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) untuk menggalang persatuan menentang kembalinya penjajah Belanda. Dalam suasana Indonesia yang masih morat-marit menata diri — tahun1950 – Buya Hamka membawa keluarganya ke  Ibu Kota Negara Jakarta. Maka dalam untaian sejarah serupa ini pemahaman historis-filosofis maupun sosiologis sejarah Ibu Kota Negara (IKN) seperti yang dipapar Profesor Sri-Edi Swasono mempunyai relevansi yang sangat mendalam, sehingga menjadi begitu gaduh dalam pembicaraan banyak orang lantaran IKN hendak dipindahkan ke Penajam, Kalimantan Timur itu patut dikaji ulang secara lebih seksama dan bijak, bukan hanya dari sisi akademik – intelektual – tetapi juga dari dimensi spiritual.

Kajian mendalam untuk memindahkan IKN dari Jakarta ke Penajam Kalimantan Timur itu, perlu dilakukan agar tidak menjadi sesal kelak dikemudian hari – pindah atau tidak pindah – kiranya bukan menjadi masalah pokoknya yang utama, akan tetapi hendaknya semua keputusan itu dilakukan secara seksama dan bijak dengan mengikut sertakan banyak pihak yang juga memiliki hak atas keberadaan IKN itu sekarang maupun nanti, sebab IKN itu akan sangat menentukan sikap serta cara berpikir bangsa Indonesia hingga kemudian mengekspresikan kepribadian yang sejati atau palsu. Demikianlah realitasnya, nilai-nilai spiritual dan intelektual untuk IKN di Jakarta atau harus dipindah ke Penajam, Kalimantan Timur tetap penting dan tidak bisa diabaikan atas dalih apapun. Kecuali memang mau menanggung resiko kualat dan diganjar azab.

Jakarta, 29 Januari 2022

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.