Jacob Ereste: Uang dan Kekuasaan Yang Terlanjur Dijadikan Garansi Masuk Surga

  • Bagikan

JAKARTA | Laku spiritual itu adalah upaya mendekatkan diri pada Allah Sang Pencipta alam raya dan seisinya, termasuk makhluk hidup lainnya agar harmoni dan damai di dunia hingga akherat.

Jadi laku spiritual itu juga upaya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, dan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan bersama makhluk lain termasuk alam lingkungan dengan segala yang ada di bumi maupun di langit.

Konsepsi dari makna rachmatan lil alamin itu adalah rumus dasar dari segala pemikiran, rasa, insting hingga sikap dan perbuatan yang senantiasa harus dikalkuladi manfaatnya bagi diri sendiri serta orang lain.

Semua itu tidak bisa ditawar-tawar, karena pakemnya memang sudah begitu. Karenanya semua harus didasiri oleh pemikiran dan perbuatan hingga pereujudannyà yang baik. Setidaknya tak boleh merugikan pihak manapun, termasuk bagi mahkluk lain, tumbuh-tumbuhan serta sumber alam yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Kecuali itu pada tahapan berikutnya adalah meminimalisasi kebutuhan yang tidak terlalu penting, sehingga praktek puasa bisa dijadikan dasar pijak menahan diri — nafsu atau birahi — tak hanya yang berbau mesum, tapi juga kerakusan, ketamakan dan ambisisi kekuasaan yang ingin melampaui hak-hak orang lain. Tidak kecuali bagi anak, istri dan cucu sendiri.

Hakikat dari peksaan terhadap orang lain — siapa pun dia termasuk pemaksaan terhadap diri sendiri — adalah pemerkosaan terselubung — yang menentang sunnatullah.

Karena itu sikap dan sifat yang berlebihan itu tidak disukai oleh Allah SWT yang telah memberi kemampuan, kekuatan serta daya nalar dan rasa serta insting yang patut diasah agar dapat lebih tajam membedah ragam masalah yang terselubung, sebagai bagian dari ragasia kebesaran Allah SWT yang tiada bandingannya itu.

Sunnatullah itu semacam hukum Tuhan yang memiliki kekuatan permanen — tak bisa diinterupsi — meski sedikit atau sejenak pun, tidak akan mangkir atau dikorup oleh kekuasaan seperti apapun yang lain.

Maka itu, hidup dan kematian itu sesungguhnya hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap segala-galanya.

Dalam bahasa ucap para ahli agama, bahwa semua yang kita miliki di bumi hanya sekedar titipan belaka, termasuk istri yang cantik atau suami yang kaya raya dan ganteng.

Artinya, semua fana yang ada di bumi. Seperti nyawa atau ruh setiap makhluk bernyawa, akan kembali disimpan oleh Tuhan Yang Maha Cermat dan teliti itu di langit.

Atas dasar itu orang harus percaya pada pengertian dosa dan pahala sebagai hasil dari perbuatan jahat dan perbuatan yang baik. Tak perlu didiskusikan secara ilmiah atau pun akademik ikhwal dosa serta pahala itu — sebagai hasil dari bentuk perbuatan jahat atau perbuatan baik — karena setiap orang hanya boleh memilih; percaya atau tidak percaya. Begitulah hakikat keimanan manusia, seperti laku spiritual yang menjadi pilihan jalan untuk bercegkrama mesra dengan Tuhan.

Tak lagi penting pula untuk dipersoalkan, Tuhan mana kita yakini, karena yang lebih perlu dopahami adalah tidak membuat berhala-berhala dan tidak pula menjadikannya sesembahan, seperti uang dan kekuasaan yang acap dianggap bisa menjadi garansi masuk surga itu.

 

Glodok, Kamis 3 Februari 2022

*Paparan berikut ini merupakan resume dari serangkaian diskusi dan dialog bersama Eko Sriyanto Galgendu, di berbagai tempat dan kesempatan selaku penggagas sekaligus pelaku gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual yang dia dedikadikan untuk bangsa dan negara Indonesia*.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *