Pembelajaran Tatap Muka Terbatas : Ekspektasi dan Realita

  • Bagikan

SHOOTLINENEWS.COM–PANGKEP

Penulis : Satriulia Jensari Rachmat

Pembelajaran tatap muka terbatas yang sudah mulai dilaksanakan di sekolah-sekolah di Kab. Pangkep mulai dari jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas per 1 Oktober disambut hangat dan gembira oleh semua pihak. Sekolah yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas untuk jenjang SMP dan SMA mengadakan vaksinasi terlebih dahulu kepada siswa-siswanya sebagai salah satu syarat PTMT. Bagi siswa yang tidak mendapatkan izin vaksin dari orangtua karena memiliki riwayat penyakit diharuskan untuk melampirkan surat keterangan dari dokter ahli.

Selama kurang lebih 2 tahun 4 bulan belajar daring (belajar dari rumah), siswa dan guru pasti sangat bersemangat dan siap untuk melakukan tatap muka di sekolah. Pembelajaran daring yang selama ini dilakukan, membatasi ruang gerak proses belajar-mengajar. Hal itu disebabkan oleh seringnya terjadi gangguan jaringan internet, kondisi sosial siswa, dan lain-lain. Akibatnya, penyampaian bahan ajar tidak maksimal dan hasil pembelajaran juga kurang optimal.

Tidak dapat dipungkiri, dalam belajar daring (belajar dari rumah) hanya sebagian siswa yang bisa mengikutinya dengan fokus untuk menerima pelajaran dari guru. Mereka dengan kondisi sosial atau lingkungan yang berbeda-beda ditambah dengan karakter siswa yang berbeda-beda pula, agak susah untuk “menerima” materi tersebut. Kebiasaan siswa tinggal di rumah secara tidak disadari seolah-olah sudah menjadi karakter sehingga disaat pembelajaran tatap muka pun mulai dilakukan, pada hari pertama masuk sekolah kehadiran siswa tidak mencapat target maksimal kehadiran yaitu 50%.

Pembelajaran tatap muka yang dijadwalkan masuk sekolah atau kelas pukul 07.30 pun terasa berat bagi siswa yang memang pada saat pembelajaran daring (belajar dari rumah) sering terlambat bangun pagi. Mereka dituntut harus kembali disiplin dan siap untuk menerima pembelajaran secara tatap muka. Situasi lain muncul ketika siswa-siswa diberikan materi di kelas, saat guru melakukan apersepsi materi yang telah dipelajari pada minggu sebelumnya, mereka seakan “kosong”.

Harapan seorang guru, pada pembelajaran tatap muka terbatas, siswa-siswa sudah paham akan setiap konsep yang akan diajarkan karena mereka sudah dibekali dengan materi-materi yang diberikan secara online, baik itu melalui pertemuan dengan menggunakan akun belajar maupun pertemuan tatap maya melalui aplikasi tatap maya seperti zoom. Namun, kenyataannya sebagian dari mereka “buta materi”. Berdasarkan hal itu, guru menyimpulkan bahwa dengan pembelajaran oline yang telah dilakukan tidak menjamin siswa untuk menguasai materi.

Berdasarkan situasi seperti diuraikan di atas, peran guru betul-betul dibutuhkan, guru harus lebih bijak dan mengkondisikan dengan karakter siswa yang dihadapi. Siswa pun harus lebih tekun untuk mengejar ketinggalan agar lebih siap dalam menerima materi yang diberikan. Selain itu, dukungan dari sekolah juga sangat diperlukan, mengingat sekolah sebagai tempat menuntut ilmu dan sebagai tempat mencetak generasi masa depan kita.

Editor: H Edo
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *