JAKARTA — Mengenal Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. “Laku Hidup Dalam : “Manajemen Manunggaling Kawulo Gusti” diungkap oleh Hartoto Basuki (PT. Mimbar Media Utama, Semarang, 2015) menarik untuk menambah pengetahuan tentang ragam macam laku spiritual dari berbagai segi keyakinan atau kepercayaan yang dianut oleh pelaku yang beragam latar belakang ilmu dan pengetahuan serta pengalaman imperik yang bersangkutan.
Menurut Maruli Sirait, Penghayat
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Permalin, bahwa perubahan adalah keniscayaan. Dan perubahan itu sendiri dinyatakan oleh Dalang dalam adegan goro-goro pewayangan menjelang tancep kayon, yaitu kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wong wadon ilang wirange. Secara berurutan artinya menggambarkan kerusakan tentang ekologis, pelanggaran etika, dan pelayuan dari harga diri (martabat dan akhlak sebagai pilar kepribadian) manusia dalam arti khalifatullah di mula bumi. Semua sekonyong-konyong menjadi gagap ketika nilai budaya yang ada mampu berinteraksi dengan modernisme dalam peralihan kapitalisme mondial yang berwajah santun.
Yang menarik dari buku Hertoto Basuki ini kata Maruli Sirait ialah menyelentrehkan strategi dalam pengendalian perubahan dengan merevitalisasi ajaran bumi nusantara sebagai pertemuan dari ajaran-ajaran universal.
Menurut Maruli Sirait, substansi hidup dan kehidupan dengan laku-laku yang diaktualisasikan dalam konteks kekinian, laku spiritual menuju laku sosial. “Sikap heneng, hening dan wening menjadi manusia wicaksana”.
Yang tak kalah menarik, Maruli Sirait menyimpulkan bahwa orang yang berijtihad (berpikir) dalam bentuk tulisan merupakan laku sosial yang nyata — yang dalam agama Islam dikenal dengan pemahaman terhadap ilmu yang bernanfaat — lintas jaman, lintas generasi yang kekal, walau pun penulisnya telah tiada.
Pekabaran baik bagi seluruh umat, perlu disampaikan seperti pesan dari Kardinal Ignatius Suharjo, saag silaturrachmi khusus bersama GNRI akhir Oktober 2021, bahwa peran media sosial di era digital sekarang ini menjadi semacam keharusan yang tak bisa diabaikan.
Maka itu melalui laku spiritual dari arah manapun hendak dimulai (Islam, Kristen, Hindu dan Buddha serta Penghayat Kepercayaan, termasuk agama tradisional yang banyak ada dalam suku bangsa Indonesia di daerah-daerah) jelas sebagai ekspresi dari usaha mendekat kepada Tuhan. Suatu kesadaran manusia terhadap martabat kemanusiaannya, baik secara pribadi, sosial maupun secara spiritual. Karena semua itu sebagai usaha pencerahan menuju untuk menggamit masa depan yang lebih baik dan lebih beradab.
Lantaran padatnya kesibukan untuk memenuhi kebutuhan jasmani, banyak orang acap lalai untuk memenuhi kebutuhan rohani — kebutuhan spiritual — yang bisa menjadikan manusia sempurna dalam satu kesatuan jasmani dan rohani. Atas dasar itu kemulyaan itu, lahir dan bathin perlu keseimbang yang harmoni. Ibarat orkestra yang padu, tidak bisa saling mengabaikan antara yang satu dengan yang lain.
Dalam falsafah Bengkel Tester inilah yang dimaksud dari “langit di luar, langit di dalam bersatu di lubuk jiwa”. Dalam pemaham ideologis, maka
pandangan tidak silau pada hal-hal yang bersifat materialistik.
Syahdan, tradisi kepercayaan telah ada jauh sebelum agama-agama dikenal dan diklasifikasikan dalam beragam macam atau aliran seperti yang ada sekarang. Lantas laku spiritual yang lama maupun dalam versinya yang baru tetap ingin menemukan tata kehidupan yang harmoni, berbudi pekerti luhur serta berakhlak mulia. Semua untuk lebih memanusiakan manusia yang sadar sebagai khalifah Allah di muka bumi untuk berbuat kebaikan terhadap sesama maupun terhadap seisi jagat raya ini seperti yang telah tersurat dalam sebutan dan pemahsman rachmatan lil amin.
Artinya, laku spititual dapat dimadiki dari segenap penjuru mata angin. Dari agama apapun, suku bangsa mana pun serta latar belakang pendidikan apapun, tiada perkecualian. Yang penting mau dan serius serta konsisten ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Agar iming-iming duniawi tidak terus membius.
JE | Jakarta, 4 November 2021














